Warga Kibarkan Merah Putih di Depan Rumah Ibunda Bung Karno

Pengibaran bendera Merah Putih di rumah Ibunda Bung Karno, Rai Serimben, di Banjar Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Buleleng, Senin (17/8).
423 Melihat

BULELENG, posbali.co.id – Dalam rangka memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ada hal yang menarik di Banjar Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Buleleng. Serangkaian pengukuhan Pokdarwis Lila Cita Ulangun Desa Adat Buleleng, puluhan warga setempat menggelar upacara bendera serangkaian HUT RI ke-75 pada Senin (17/8) pagi tepat di depan rumah Nyoman Rai Srimben yang tak lain adalah Ibunda Sang Proklamator RI, Ir. Soekarno.

Peserta kegiatan upacara yang dimulai sekitar pukul 09.45 ini, lengkap dengan pakaian adat madya. Hadir juga Ketua DPRD Buleleng, Gede Supriatna, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng, Made Sudama Diana, serta pengurus Desa Adat Buleleng. Bendera Merah Putih dikibarkan pada sebuah tiang bambu setinggi sekitar 10 meter yang posisinya persis di depan kediaman Rai Srimben.

Ketua DPRD Buleleng, Gede Supriatna, mengatakan, baru pertama kali mengikuti upacara bendera di depan rumah Ibunda Bung Karno. Meskipun perayaan HUT RI di tengah pandemi, tapi dirinya berharap spirit nasionalisme tetap dijaga.

“Ini bisa memberikan vibrasi kepada kita semua untuk bisa membangkitkan rasa nasionalisme dan perjuangan dari para pahlawan, sehingga Indonesia merdeka. Kendati sekarang di tengah pandemi, semangat nasionalisme harus dijaga, harus saling membantu di tengah lesunya perekonomian bangsa,” kata Supriatna.

Sementara itu, Kepala Dispar Buleleng, Made Sudama Diana, mengapresiasi dibentuknya Pokdarwis Lila Cita Ulangun oleh Desa Adat Buleleng. Ia berharap keberadaaan pokdarwis ini bisa menggali potensi pariwisata di Kecamatan Buleleng. “Pokdarwis ini harus ikut membantu mempromosikan pariwisata Buleleng agar dikenal,” jelas Sudama.

Sementara itu, penglingsir Banjar Bale Agung, Jro Mangku Made Arsana, menambahkan, Nyoman Rai Serimben merupakan anak kedua dari pasangan I Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Rai Srimben dibesarkan oleh kakek dan neneknya karena kedua orangtuanya berpisah.

Rai Srimben tinggal di rumah kakek dan neneknya yang tidak jauh dari rumah orangtua Nyoman Rai Serimben terdahulu. Rai Serimben tidak mengikuti pendidikan formal, tapi hanya diajarkan kakeknya untuk menguasai adat dan budaya Bali.

Ketika umurnya sekitar 17 tahun, Rai Serimben sering menari. Sejak itulah Rai Srimben kenal dengan Raden Soekami (ayah Soekarno) yang bekerja menjadi guru di sekolah rakyat yang kini diberi nama SDN 1 dan 2 Paket Agung. Soekami ketika itu tinggal sebuah kos-kosan yang jaraknya tidak jauh dari kediaman Rai Serimben.

Konon hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Rai Serimben. Lantas keduanya memutuskan untuk menjalin asmara secara sembunyi-sembunyi, hingga Raden Soekami membawa lari Rai Serimben dan mempersuntingnya tanpa restu.

“Hubungan dengan keluarga di Banjar Bale Agung membaik. Rai Serimben sempat melahirkan anak pertama yakni Raden Soekarmini. Sampai usia Raden Soekarmini dua tahun, mereka pindah ke Surabaya. Katanya saat pindah itu, Rai Serimben tengah hamil muda. Bayi yang dikandungi itu adalah Soekarno,” tuturnya.

Menurut Jro Arsana, rumah Rai Serimben pernah dikunjungi oleh putra-putri Soekarno. Seperti Presiden kelima Megawati, Guruh, Sukmawati, dan Rahmawati. “Jadi, semua anak Bung Karno pernah ke sini, kecuali Guntur Soekarno Putra. Bahkan anaknya Bu Mega, yakni Puan Maharani juga pernah ke sini,” pungkas Jro Arsana. 018

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.