Warga Kembali Keluhkan Proyek Galian PLN di Jalan Uluwatu

Salah satu galian proyek PLN di jalan Uluwatu Jimbaran yang telah menelan korban
Salah satu galian proyek PLN di jalan Uluwatu Jimbaran yang telah menelan korban
429 Melihat

MANGUPURA, POS BALI – Proyek penambahan daya PLN di Kuta Selatan persisnya di jalan Uluwatu terus menuai keluhan, masyarakat khususnya pengendara. Keluhan tersebut beberapa kali diposting di media sosial. Pasalnya proyek galian tersebut terus membuat macet, bahkan belakangan ini proyek tersebut sampai menelan korban.  

Untuk itu pihak pemilik proyek melakukan kontrol terhadap pengerjaan di lapangan, sebab hal itu mempengaruhi kenyamanan dan keamanan citra wilayah. “Jadi perlu diperhatikan tentang keselamatan pengendara dan kenyamanan wilayah. PLN selaku pemilik proyek harus senantiasa mengontrol teknis pengerjaan di lapangan, karena ini memancing keluhan warga dan pengendara,”kata Kelian Adat Banjar Ubung Jimbaran, Made Subagiada, Senin (20/5).

Pihak pemilik proyek diminta untuk meminimalisir keluhan di lapangan. Begitu juga kontrol pemerintah, karena itu menyangkut kepentingan umum dan mempengaruhi sektor pariwisata. Apalagi sempat terjadi kecelakaan yang menyebabkan warga Kedonganan mengalami luka parah, karena jatuh dan terperosok ke dalam lubang galian. “Aspek ekonomi juga perlu diperhatikan, warung yang ada di depan galian itu juga terpengaruh.  Karena debu yang bisa masuk ke makanan. Debu-debu proyek juga sangat menganggu kesehatan masyarakat,”ujarnya

Hal senada juga disampaikan oleh Kaling Banjar Ubung, Made Toya Asmara, dimana proyek galian kabel PLN tersebut banyak memancing keluhan warga dan pengendara. Atas hal tersebut, pihaknya mengaku sempat menegur pihak proyek, terkait tekhnis pengerjaan di lapangan.

Dimana ketika sudah ada 5 lobang yang digali, hal itu diharapkan jangan ditambah lagi di titik yang lain. Sebab hal itu memicu kemacetan dan agar pengerjaannya terkonsentrasi dahulu di titik tersebut. “Setelah kita tegur, itu sempat diatensi. Saya sempat dicari ke rumah oleh pihak proyek, akhirnya kita berikan edukasi tapi mereka bilang proyek itu harus selesai bulan Mei. Entah itu jadi atau tidak, terakhir saya dengar itu katanya selesai bulan Juni,”ujar Toya Asmara.

Proyek tersebut dulunya  tidak ada petugas jaga untuk mengatur lalin yang padat, karena ada keluhan dicarikanlah petugas untuk mengatur lali. Namun jumlah tenaga tak memadai, karena kemacetan terus terjadi. Puncaknya ada salah seorang warga Kedonganan yang jatuh ke dalam lubang proyek.

Kejadian itu langsung diatensi oleh Camat Kutsel dan pihak PLN, sebab korban menghabiskan biaya ke RS mencapai Rp 64 juta. Akhirnya biaya pengobatan korban sepenuhnya ditanggung oleh pihak proyek. “Rambu lampu yang menyala itu tidak ditaruh didekat proyek, sehingga pada saat malam hari pengendara tidak tahu bahwa ada galian. Memang ada tanda rambu panah proyek, tapi itu dipasang dekat sekali dengan proyek, sehingga pengendara terkadang tidak bisa menghindar,”bebernya.

Diakuinya masyarakat pada umumnya mendukung proyek tersebut, apalagi itu merupakan program pemerintah.  Selain kemacetan pihak proyek diketahui juga sempat membuang limbah galian ke dalam drainase. Memang air tersebut tidak bau dan pekat. Sebab kondisi drainase ada yang dipakai untuk meletakan galian, agar tidak menganggu pengendara. Namun demi kenyamanan, hal itu kemudian dilarang dan diberikan peringatan keras. “Berapa kali ditegur, pihak proyek hanya bilang maaf saja. Bus pariwisata belum lama ini juga sempat ngadat di tanjakan tegeh sari, karena proyek ini,” tandasnya. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.