Upacara Warak Keruron, Ngelangkir, dan Ngelungah Diikuti Ratusan Peserta

Suasana pelaksanaan Upacara Warak Keruron, Ngelangkir, dan Ngelungah pada Sabtu (5/10) di Pantai Padang Galak, Kesiman Petilan, Kota Denpasar.
3,529 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Pasraman Bhuwana Dharma Shanti, Sesetan, Denpasar kembali menyelenggarakan Upacara Warak Keruron, Ngelangkir, dan Ngelungah pada Sabtu (5/10) di Pantai Padang Galak, Desa Kesiman Petilan, Kota Denpasar. Upacara ini diikuti 201 peserta dari kabupaten/kota seluruh Bali.

Upacara dipuput tiga sulinggih yaitu: Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, Ida Sri Mpu Budha Yoga Sogata, dan Ida Pandita Mpu Jaya Ananda. Rangkaian pelaksanaan upacara ini melibatkan puluhan peserta kursus kepemangkuan Pasraman Bhuwana Dharma Shanti. Pelaksanaan upacara ini yang kedua kalinya oleh Pasraman Bhuwana Dharma Shanti setelah yang pertama dua bulan lalu di tempat yang sama dengan 145 peserta.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menjelaskan, upacara warak keruron adalah upacara untuk menghilangkan hal-hal negatif bagi orangtua bayi (ibu) seperti sakit, ketidak harmonisan dalam keluarga, pekerjaan, dan lain-lain akibat keguguran atau menggugurkan kandungan. “Warak keruron khusus untuk ibu yang aborsi, maka ia dianggap sebel sehingga perlu diberikan pembersihkan secara niskala lewat upacara ini,” ujarnya.

Upacara ngelangkir adalah upacara pembersihan untuk bayi yang belum kepus pungsed (lepas pusar). Termasuk jabang bayi itu masih berupa darah atau belum terbentuk sempurna di dalam kandungan. “Kalau dulu tidak ada upacaranya. Tetapi gejala di masyarakat, baik secara kenyataan ataupun lewat mimpi, sering terjadi gangguan kepada mereka yang mengalami hal tersebut sehingga anak itu perlu diupacarai,” jelasnya.

Sementara itu, upacara ngelungah untuk bayi yang meninggal sudah kepus pungsed tetapi belum tanggal gigi. “Kalau ngelungah upacaranya lebih besar sedikit dari ngelangkir, antara lain ada sarana upakara bubur pirata, dan sebagainya. Ngelangkir maupun ngelungah ini semua pakai tirta pengentas,” kata sulinggih asal Sesetan, Denpasar ini.

Menurut Ida Rsi Bhujangga, upacara ini juga suatu peringatan bagi mereka yang melakukan aborsi secara sengaja. Karena kenyataannya bahwa orang-orang yang keguguran itu dia sering diganggu, baik dari kehidupan ekonominya, kehidupan pribadinya seperti dia tidak punya anak atau sulit hamil kembali. “Artinya, dilarang membunuh walaupun itu masih dalam bentuk darah sekalipun. Karena dalam pertemuan sukla swanita itu sudah ada roh yang masuk,” katanya.

Koordinator Acara, Jro Mangku I Wayan Dodi Ariyanta, menyampaikan, prosesi upacara ini diawali dengan ngulapin bagi suksma sarira sang bayi di perempatan agung dengan menggunakan sarana sangga urip. Dilanjutkan dengan upasaksi dipimpin oleh sang sulinggih. Setelah itu prosesi ngedetin sang atma, menghaturkan tarpana, dan ngerastitiang diakhiri doa bersama oleh peserta. Setelah semua prosesi tersebut selesai bagi peserta diberikan penglukatan untuk menghilangkan trauma pasca keguguran.

Akhir prosesi ini dilaksanakan upacara ngeseng atau pembakaran adegan dan nganyut ke segara. Peserta upacara diberikan tirta caru dan tirta suamba sebagai sarana pebersihan di pekarangan rumah. “Dalam rangkaian ini, upacara ngelinggihang tidak dilaksanakan karena bayi dianggap belum memiliki karma wasana di dunia ini,” jelasnya. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.