Upacara Saat Tumpek Landep, Letakkan Banten di “Luanan” dan Mobil di “Tebenan”

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti
23,872 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti mengungkapkan, sering terjadi kesalahan ketika mengupacarai mobil atau kendaraan lainnya saat Tumpek Landep. Kesalahan tersebut yakni penempatan atau posisi antara banten, mobil, dan pemangku yang nganteb (pemimpin) upacara tersebut.

“Sering tiang saksikan, orang nganteb upacara Tumpek Landep, pemangku atau pinandita berada di teben (hilir, red), sedangkan mobilnya di luanan (hulu, red). Seolah-olah mobil itu adalah dewa yang dipuja saat itu. Karena itu jangan salah jika orang luar kemudian menyatakan orang Bali memuja berhala. Karena melihat upacara itu seperti menyembah mobil,” ungkap Ida Rsi Bhujangga, Selasa (17/12).

Menurutnya, kesalahan penataan saat prosesi upacara itu perlu diubah sehingga tidak semakin jauh dari esensi upacara Tumpek Landep untuk memuja Ida Sang Hyang Pasupati. Meluruskan hal ini, pihaknya pun sering menyampaikan kepada masyarakat khususnya para pemangku.

Ida Rsi Bhujangga menekankan, sebagai pemangku atau pinandita yang mengupacarai kendaraan atau mesin saat Tumpek Landep, bantennya dihaturkan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati. Maka, tempatkanlah banten itu di luanan (hulu), mobilnya di tebenan (hilir). Jangan sampai menaruh banten itu di tebenan.

“Sama halnya ketika ngotonin orang. Kalau ngotonin orang, masak manusianya ditaruh di luanan banten, di luanan tukang nganteb? Kan tidak.  Tetapi harus ditaruh di samping atau di belakang sang sane nganteb. Begitu juga mobil, motor, ada di samping atau di belakang,” jelasnya.

Penulis Buku”Reformasi Ritual: Mentradisikan Agama Bukan Mengagamakan Tradisi” ini lebih lanjut menerangkan, banten yang disajikan saat upacara itu terlebih dahulu harus dihaturkan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati. Bukan langsung ke mobil atau kendaraan. Bukan langsung ke alat-alat yang diupacarai saat itu.

Setelah dihaturkan kepada Sang Hyang Pasupati, barulah umat memohonkan anugerah kepada Sang Hyang Pasupati. Anugerah itu berupa tirta. Tirta itulah yang kemudian kaketisin (diperciki) ke benda-benda atau alat-alat yang diupacarai saat Tumpek Landep. “Dengan begitu, umat Hindu bukan memuja mobil. Ketika sembahyang pun, kita tidak menghadapi mobil. Tetapi menghadap Sang Hyang Widhi Wasa dalam prebawanya sebagai Sang Hyang Pasupati,” jelasnya.

Lebih lanjut Ida Rsi Bhujangga mengatakan, yang terbaik sebenarnya melakukan upacara Tumpek Landep, ngaturang piodalan Tumpek Landep di sanggah/merajan atau di padmasana kalau di perkantoran. Tirta yang dimohonkan ke hadapan Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang nantinya diperciki ke mobil atau kendaraan atau benda logam lainnya yang ingin diupacarai. “Jadi, mobil atau kendaraan itu tetap di tempat parkir atau garasinya. Tirta ini yang dibawa ke sana,” ujarnya.

Terkait banten Tumpek Landep, dijelaskan, tentunya ada beberapa tingkatan. Banten tingkat kecil misalnya terdiri atas pejati, sesayut pasupati, prayascita, dan beberapa upakara pelengkap lainnya. Biasanya kendaraan atau mesin yang diupacarai juga dipasangi kain dan gantungan sebagai wujud rasa syukur sang pemilik.

“Kalau kita amati sekali, hari itu sebenarnya adalah untuk memberikan waktu mengaso bagi kendaraan atau mesin yang diupacarai. Ini bagian dari bentuk perawatan atau pemeliharaannya,” katanya. rap

3 Comments

  1. Om SWASTIASTU. Suksma banget Ratu Rsi atas info dan koreksi pelaksanaan Yadnya dikalangan umat Hindu. Semoga semakin hari umat Hindu semakin dewasa (memahami).

  2. Auksma indik pawarah sane kapaica, sapisanan ttyg nunas indik sehe, utawi mantra sane anggen rikala ngaturang Yadnya tumpek Landep napi kaangkat sakeng pemerajan lantur pengulap ke perangkat sane pacang maupacara inggih suksma

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.