Ujaran Kebencian di Medsos Berujung ke Pengadilan

Simone Christine Polhutri (kiri) ditemui di sela-sela sidang di PN Denpasar, Selasa (11/8).
228 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Sidang pidana kasus ujaran kebencian di media sosial (medsos) dengan perkara Nomor 623/Pid. Sus/2020/PN Denpasar berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (11/8). Sidang yang dihadiri tergugat Linda Paruntu dan penggugat Simone Christine Polhutri (50 tahun) dengan menghadirkan saksi ahli TI, Gde sastrawangsa, ST, MT dari Stikom Bali.

Bermula dari postingan grup WhatsApp yang kemudian berlanjut ke ranah Facebook, Simone Polhutri terus mendapatkan cercaan, makian dan sumpah serapah yang dialamatkan kepadanya. Ia berharap kasus ini menjadi suatu pembelajaran kepada masyarakat agar bijak dalam melakukan postingan dalam berkomunikasi di medsos, baik WA Group maupun FB. Menurutnya, hal ini mengingatkan akan pepatah ‘Jarimu adalah Harimaumu’.

“Akibatnya bisa membuat orang lain menderita seperti saya dan rusaklah harga diri dan martabat saya dengan perkataan ‘Si Monyet’ yang tersangka posting dengan menge-tag-nya ke semua rekan dan saudara saya di Facebook,” kata Simone sambil menahan Isak tangisnya.

Ia tak habis pikir mengapa harus terjadi pada dirinya, karena selama ini merasa tak pernah berbuat jahat ataupun melontarkan kata-kata yang menyakitkan kepada orang lain. Namun, hujatan dan hinaan selalu ditujukan kepadanya oleh seorang perempuan secara membabi buta di media sosial.

“Banyak sekali bukti autentik dari hujatan, cacian, bahkan merendahkan martabat saya yang dilakukan olehnya. Mulanya saya dengan sabar tak menanggapi itu semua, namun akhirnya saya laporkan ke pihak berwajib beserta bukti-buktinya,” kata ibu tiga anak ini.

Simone Polhutri menuturkan, ia waktu itu masih menunggu permintaan maaf dari tergugat. Tetapi yang bersangkutan malah menantang untuk dilaporkan. “Kejadian ini merupakan akumulasi kekesalan saya dan teman-teman yang juga pernah dicerca, namun mereka takut melaporkan,” tambahnya.

Mayor Sus Erwin Dwiyanto, SPI, SH. dari Diskum TNI AU yang hadir dalam sidang ini menjelaskan, sudah kewajiban pihaknya untuk memberikan perlindungan hukum serta mendampingi Christine Polhutri karena memang merupakan bagian dari Kelurga Besar TNI (KBT). “Kami memberikan advokasi dan bantuan hukum,” ujarnya.

Sidang kasus ujaran kebencian ini akan dilanjutkan pada 18 Agustus 2020 untuk mendengarkan keterangan saksi ahli bahasa dari pihak tergugat. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.