“Tutur Korawisrama”, Kisahkan Kelahiran Pule, Kepah, Kepuh dan Beringin

ADEGAN Sanggar Seni Pancer Langit Art Production bertajuk “Tutur Korawisrama” pada ajang Bulan Bahasa Bali 2021.
43 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Dikisahkan, Dewa Siwa berkeinginan untuk menguji kesetiaan Dewi Uma. Dewa Siwa kemudian mengutus Dewi Uma, istrinya untuk turun ke dunia mencari susu lembu yang akan digunakan untuk mengobati sakitnya.

Singkat cerita, Dewi Uma akhirnya mendapatkan susu tersebut. Namun sayang dengan cara yang tidak benar. Karena itulah yang menyebabkan Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi sangat menyeramkan dengan nama Durga Bhairawi.

Setelah sekian lama, Dewi Uma menjalani kutukan menjadi Durga Bhairawi, menimbulkan rasa rindu kepada Dewa Siwa, sehingga membuatnya turun ke dunia dan berubah wujud menjadi Kala Bhairawa.

Pada saat Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam wujud Kala Bhairawa dan Durga Bhairawi lalu mereka bersenggama. Dari tetesan sperma beliau, lalu muncullah taru (pohon) pule, kepah, kepuh dan beringin.

Garapan seni yang mengisahkan kelahiran atau awal munculnya kayu kepuh, kepah, pule, dan kayu bringin itu, merupakan persembahan Sanggar Seni Pancer Langit Art Production menyajikan sesolahan sastra bertajuk “Tutur Korawisrama” pada ajang Bulan Bahasa Bali 2021.

Garapan di bawah asuhan Art Director Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn., memadukan teknik virtual dari unsur tari, teater, musik dan teknik videografi yang menarik untuk ditonton, dan telah ditayangkan Channel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali sejak, Sabtu, 13 Februari 2021.

“Garapan ini sarat pesan, yaitu upaya kita dalam menjaga kelestarian alam salah satunya adalah menjaga tumbuhan sebagai sumber oksigen, melalui garapan seni kita harapkan pecinta seni, masyarakat untuk bersama-sama memperhatikan lingkungan kita,” ujar Agung Rahma Putra yang juga dosen tari.

Dijelaskan, untuk pementasan berdurasi 33 menit itu, untuk backsound adalah epic ethnik kolaborasi dan kelebihan dari garapan biasanya adalah karya ini selain menggabungkan unsur tari dan teater juga dipadukan dengan musik dan teknik videografi.

“Jumlah penari 13 dalam frame, sedangkan penabuh menggunakan iringan musik midi,” ungkap pria yang akrab disapa Gung De Rahma.

Sajian seni ini sungguh menarik dan apik. Kisah dipaparkan lewat ekspresi gerak yang masih bernuansa tradisional Bali yang dikemas baru.

Pembabakannya sangat detail, alurnya mengalir. Pesan yang ingin disampaikan begitu kuat, yakni tetap menjaga kelestarian alam salah satunya adalah menjaga tumbuhan sebagai sumber oksigen. 019

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.