Tumpek Landep, Otonan Mobil?

Pada rahina Tumpek Landep, masyarakat Hindu Bali mengupacarai berbagai benda yang terbuat dari logam, mulai dari keris dan tombak sebagai benda berbentuk tajam, hingga benda-benda lainnya seperti mobil, motor, dan mesin.
4,325 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Setiap hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Landep masyarakat Hindu Bali merayakan hari suci yang disebut rahina Tumpek Landep. Hari suci ini diperingati setiap enam bulan Bali atau 210 hari sekali. Ketika hari ini tiba, warga mengupacarai keris, tombak, dan beragam benda tajam lainnya yang dimilikinya.

Dalam perkembangannya kemudian, pada hari Tumpek Landep warga masyarakat juga mengupacarai kendaraannya baik motor maupun mobil, hingga alat-alat mesin, semua diupacarai pada hari ini. Justru belakangan orang lebih familier menyebut Tumpek Landep sebagai “otonan mobil”. Karena pada hari ini di banyak tempat di Bali akan mudah ditemui warga masyarakat yang mengadakan upacara untuk mobil dan motornya.

Sulinggih asal Desa Sesetan, Kota Denpasar, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, mengatakan perayaanTumpek Landep memiliki makna untuk menajamkan idep (pikiran) dan menajamkan wiweka. Sesungguhnya Tumpek Landep masih terkait dengan hari raya Saraswati. Ketika hari Saraswati, ilmu pengetahuan Weda tedun (diturunkan) oleh Sang Pencipta kepada manusia. Ilmu pengetahuan atau Sang Hyang Aji Saraswati itu selanjutnya dipelajari oleh umat manusia.

“Cuma, dulu ada yang mengatakan bahwa pada Saraswati tidak boleh belajar, tidak boleh membaca lontar. Ini kan pembodohan sebenarnya. Mereka yang berkuasa, yang punya otoritas pada waktu itu, justru membuat orang-orang tetap bodoh,” ujar Ida Rsi Bhujangga saat ditemui di Griya Bhuwana Dharma Shanti, Sesetan, Selasa (17/12).

Sulinggih yang juga dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) ini menuturkan, sebenarnya apa yang disampaikan oleh leluhur seperti tertuang dalam pustaka lontar bahwa turunnya Sang Hyang Aji Saraswati adalah turunnya Weda. Tetapi kenyataannya, banyak orang Bali yang tidak tahu membaca lontar. Karena masyarakat tidak diberikan membacanya.  “Ada istilah atau ditakut-takuti, kalau membaca lontar bisa buduh atau gila. Ini kan salah satu pembodohan,” katanya.

Ida Rsi Bhujangga lebih lanjut menjelaskan, ilmu pengetahuan yang diturunkan pada Saraswati mestinya dipelajari. Kemudian ketika hari Pagerwesi menjadi waktu untuk memberikan batas mana yang baik, mana yang jelek, mana ilmu pengetahuan yang perlu dipelajari lebih mendalam untuk mendukung guna karma atau swadharma masing-masing.

Kemudian tepat pada Tumpek Landep adalah pemujaan kepada Ida Sang Hyang Pasupati, beliau tedun (turun) memberikan kekuatan kepada manusia untuk mempertajam pikiran, mempertajam ilmu pengetahuan yang telah dimiliki. Sebab ilmu pengetahuan itu terus-menerus tumbuh, berubah, dan bertambah. Inilah tujuan dari Tumpek Landep supaya pikiran semakin tajam, wawasan semakin luas. Setiap orang terus mengasah ilmu pengetahuan sesuai guna yang dilakoninya. Apakah dia menjadi dokter, menekuni pertanian, politik, apapun itu. Semuanya mesti terus mempertajam pikirannya.

Lebih jauh Ida Rsi Bhujangga menjelaskan, dalam perayaannya, oleh para leluhur Bali, Tumpek Landep itu kemudian disimbolkan dengan keris terutama keris pusaka. Karena keris itu tajam. Namun hal itu hanya sebagai simbol ketajaman. Bukan berarti orang Bali mendewakan keris, tombak, dan sebagainya.

“Keris itu berasal dari besi atau dari metal atau logam. Perkembangannya kemudian, ketika ada barang-barang yang berhubungan dengan logam, maka dipersonifikasikan oleh masyarakat awam itu bahwa harus juga diupacarai. Akhirnya semua yang terbuat dari besi dianggap sama seperti keris perlu diupacarai pada hari Tumpek Landep,” tuturnya.

Apakah hal itu keliru? Menurut Ida Rsi Bhujangga, mengupacarai benda-benda terbuat dari logam pada hari Tumpek Landep, tidak juga keliru. Akan tetapi, perlu pemahaman lebih mendalam akan maknanya. Karena ilmu pengetahuan itu luas. Dengan ilmu pengetahuan itu orang bisa membuat mesin, membuat kendaraan, bisa membuat komputer. Semua itu hasil ketajaman pikiran atau kecerdasan manusia.

“Oleh sebab itu, perlu diperhatikan ketika kita melaksanakan upacara untuk yang berhubungan dengan besi, tidak kita mendewakan benda itu,” tegas sulinggih peraih Pro Bali Award Tahun 2016 (Tokoh Rohaniawan Pembaharu) ini.

Ida Rsi Bhujangga menambahkan, dengan perkembangan zaman dimana dilaksanakannya upacara untuk mobil atau kendaraan lainnya saat Tumpek Landep, maka sering dikatakan oleh masyarakat sebagai otonan mobil. Menurutnya, penyebutan itu sebatas sebagai pengingat tidak masalah. Tetapi perlu dipahami bahwa penataan prosesi upacara jangan sampai salah. “Dan jangan sampai salah kaprah ada Bhatara Mobil. Tidak ada Bhatara Mobil. Tumpek Landep adalah memuja Sang Hyang Pasupati,” ucapnya. rap

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.