“Tribute to Sura” FSBJ III: Penyadaran akan Pentingnya Keseimbangan

Pertunjukan “The Lost of Equilibrium – Sura Padnya Tribute to Sura” yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Sura Pradnya di panggung FSBJ III Tahun 2021, Minggu (24/10/2021) malam.
1,213 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Semua orang pernah kehilangan benda, orang, bahkan kehilangan keseimbangan. Ketika kehilangan, orang akan sadar bahwa suatu yang hilang itu menjadi penting. Demikian pesan yang terungkap dari Adilango (Pergelaran) Tari Kontemporer “The Lost of Equilibrium – Sura Padnya Tribute to Sura” yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Sura Pradnya Tampaksiring di panggung Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III Tahun 2021, Minggu (24/10/2021) malam.

Pertunjukan kontemporer “Sura Padnya Tribute to Sura” yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali menampilkan profil I Nyoman Sura sebagai tokoh seni kontemporer. Profil maestro tari itu disajikan ke dalam bentuk berbagai media ungkap seperti audio visual, rekonstruksi karyanya, dan juga pembaharuan karya yang disajikan oleh beberapa muridnya dan tim Sura Pradnya. Karya ini melibatkan lebih dari 30 penari, baik anak-anak, remaja maupun penari dewasa, serta melibatkan tim produksi sebanyak 20 orang.

I Ketut Gede Agus Adi Saputra selaku konseptor dan koreografer garapan mengatakan, the lost of equilibrium atau kehilangan keseimbangan ini adalah bentuk penyadaran bagi kita untuk menyeimbangkan diri kita pada segala hal. “The Lost of Equilibrium adalah bentuk penyadaran bagi kita untuk tetap memahami hakikat keseimbangan dalam hidup. Namun, ketika kita merasa kehilangan, spirit dan kekuatannya akan memberi harmoni dari penyadaran kita akan keseimbangan. Jagalah keseimbangan hidup, sehingga kita bisa tetap bahagia,” ucapnya.

Seniman yang akrab disapa Adi Siput ini menjelaskan, “The Lost of Equilibrium” adalah sebuah garapan untuk mengenang karya almarhum I Nyoman Sura dan dedikasinya dalam dunia seni tari kontemporer. Penghormatan ini diwujudkan pada sebuah pementasan tari kontemporer dengan mengangkat keharmonisan hubungan antara murid dan guru melahirkan karya baru. Menjaga spirit penciptaan dan kebermanfaatan ilmu yang didapat dan implementasinya kepada banyak orang. “Seperti spirit alam dan bumi ini memberi tanpa berharap, namun yang diperlukan kesadaran dan penyadaran,” ucapnya.

Garapan “The Lost of Equilibrium” juga melibatkan koreografer muda seperti Agus Adi Yustika, I Komang Adi Pranata, dan IB. Putu Dharmayasa. Komposer dalam pertunjukan ini yakni I Wayan Rakananda Saputra, Wahyu Etnika, dan I Wayan Supertama Yasa. Selain itu, menghadirkan perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ untuk merespons instalasi serta narator/puisi diisi oleh Moch Satrio Welang.

FSBJ III Tahun 2021 yang diselenggarakan dari tanggal 23 Oktober sampai 6 November 2021 mendatang mengusung tema “Jenggala Sutra: Susastra Wana Kerthi” yang bermakna “Semesta Kreativitas Terkini: Harmoni Diri dan Bumi dalam Keluasan Penciptaan Baru”. Dari sekian banyak mata acara dalam event ini, secara khusus digagas dan diwujudkan sebuah program penghormatan atau a tribute bagi maestro atau pendahulu, yakni A Tribute to Umbu Landu Paranggi (sastrawan) dan A Tribute to Nyoman Sura (penari/koreografer).

“Kita memahami, dan itu sudah terbukti, seni-seni modern/kontemporer Bali sesungguhnya sudah memiliki proses atau sejarah panjang. Sepatutnya kita menghormati para pendahulu, seperti Pak Umbu Landu Paranggi dan Bli Nyoman Sura, yang dedikasi dan sumbangsih kreativitasnya mewarnai dinamika kehidupan seni modern/kontemporer kita,” ujar Warih Wisatsana, salah satu kurator FSBJ III Tahun 2021. rap

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.