Tradisi “Metajuk” di Banjar Buungan Masih Lestari

Warga Banjar Buungan, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli melakukan kegiatan metajuk saat menanam kencur.
421 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Di Banjar Buungan, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli ada tradisi gotong royong yang dikenal dengan sebutan metajuk, yakni kewajiban sosial masyarakat yang dilaksanakan secara ikhlas. Di tempat lain dikenal dengan istilah ngayah.

Selasa (8/9) tradisi itu dijalankan, ketika satu warga menanam jahe gajah maupun kencur di salah satu petak tegalan milik warga setempat.

Kelian Banjar Buungan, Nengah Astawa, menuturkan, dalam kehidupan masyarakatnya tidak bisa dipisahkan antara adat dan agama. Terkait pelaksanaan metajuk, kata dia, biasanya di masing-masing desa pakraman akan melaksanakan kewajiban yang istilahnya berbeda-beda.

“Ngayah maupun metajuk adalah kewajiban sosial masyarakat yang dilaksanakan secara gotong royong dengan hati tulus ikhlas, baik di banjar maupun di tempat suci. Ngayah dapat diartikan melakukan pekerjaan tanpa diupah,” jelasnya.

Dalam perkembangan dewasa ini, sambungnya, ngayah bukan lagi monopoli atau menjadi kewajiban para pemilik tanah ayahan desa, tapi juga menjadi tradisi. Karena konsep ngayah adalah melakukan pekerjaan dengan tulus ikhlas, cetusnya, maka dalam pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan tolong-menolong. Baik pada saat pembangunan fisik, persiapan pembuatan upakara, dan saat pelaksanaan upacara yadnya.

“Intinya, siapapun yang berminat ngaturang ayah dibolehkan oleh para prajuru di desa pakraman tersebut. Sementara metajuk khusus di lingkup keluarga maupun persahabatan yang saling tolong-menolong,” katanya. gia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.