Terinspirasi Keseharian, Rastafara Cetamol Persembahkan Album “Kiri-Kanan”

551 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Band bergenre Reggea asal Bali Utara, Rastafara Cetamol, siap mewarnai industri musik Bali. Melalui persiapan yangpanjang, mereka akhirnya merilis album perdana berjudul”Kiri-Kanan”.

Tujuh lagu berkarakter santai khas musik Reggea pun siap memanjakan telinga para penikmatnya. Lagu “Kiri-Kanan” yang menjadi judul album itu pun tampak begitu akrab di telinga, sebab memang menyajikan lirik yang begitu sederhana dan gampang diingat.

Vokalis Rastafara Cetamol, Wilasa, dalam konferensi pers rilis lagu tersebut, Kamis (30/5) menuturkan, ketujuh lagu yang disajikan dalam lagu tersebut merupakan ciptaan mereka sendiri. Dari tujuh lagu yang tersaji, enam berbahasa Indonesia, sedangkan satu berbahasa Bali. Ketujuh lagu itu yakni Kiri-Kanan, Sobat, Polusi Hati, Besi Tua, Sobat, Aku Ingin Wisuda, Baliku, dan Uyeng-uyengan.

“Lagu-lagu dalam album ini teriinapirasi dari keadaan atau aktivitas sehari-hari. Kiri-Kanan misalnya, mengungkapkan sapaan dan juga ajakan yang dicurahkan lantaran jarang berjumpa dan rindu akan ajakan untuk berdendang,” kata Wilasa.

Inspirasi keseharian itu juga mencoba diungkapkan dalam lagu “Aku Ingin Wisuda” yang terinspirasi dari pengalaman beberapa kawan yang tak kunjung menyelesaikan studi di kampus. Begitu juga dengan lagu “Besi Tua” yang didedikasikan bagi penggemar scooter, yang senantiasa bangga terhadap kendaraannya, meski tergolong sebagai kendaraan tua.

“Kalau Sobat adalah salah satu wujud ungkapan terimakasih kepada teman-teman yang men-support Rastafara Cetamol, sedanhkan lagu Uyeng-uyengan mengisahkan seorang pemuda yang malu mengungkapkan isi hati, dan harus uyeng-uyengan (mabuk) untuk berani mengungkapkan isi hati,” ucap Wilasa.

Sementara itu, dua lagu lainnya, yakni “Polusi Hati” dan “Baliku” didedikasikan lebih pada lingkungan hidup. “Polusi Hati” tercipta sebagai ungkapan terhadap kondisi alam dan lingkungan yang semakim hari semakin dieksploitasi, yang bermuara pada kehancuran lingkungan hidup. Sedangkan “Baliku” berupaya merekam kondisi Bali saat ini, yang juga sangat rentan.

Rastafara Cetamol terbentuk pada 2014, yang berawal dari sekelompok mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja yang bertemu dalam sebuah unit kegiatan mahasiswa. Grup band ini digawangi Wilasa (vocal), Donat (bass), Wira (conga), Leo (keyboard), Wahyu(drum), dan Patet (backing vocal; tamborine). Sejak terbentuk, mereka telah beberapa kali tampil di berbagai perhelatan. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.