Terapkan Prokes Ketat, 426 Wisudawan UPMI 95 Persen Terserap Dunia Kerja

Calon wisudawati memperlihatkan hasil rapid tes antigen negatif sebelum memasuki ruang acara.
194 Melihat

MANGUPURA, posbali.co.id – Bertepatan setahun IKIP PGRI Bali naik status menjadi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI), pada Selasa (28/9), di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), kampus pencentak SDM unggul ini sukses mewisuda 426 sarjana.

Para wisudawan itu terdiri dari 43 sarjana TI, sedangkan sisanya dari FKIP yakni Prodi Pendidikan BK, Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah Bali, Seni Rupa, Seni Tari, Ekonomi, Jaskes dan Rekreasi, Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi.

Wisuda di tengah pandemi ini pun berlangsung dengan protokol kesehatan (prokes) yang sangat ketat. Calon wisuda yang akan memasuki Convention Hall Nusa Dua wajib memakai masker, menjaga jarak, mengukur suhu tubuh, menscan PeduliLindungi, dan negatif Covid-19 berbasis swab antigen. Selain itu, ceremonial wisuda dibagi menjadi dua sesi.

Rektor UPMI, Dr. I Made Suarta menyampaikan, wisuda ini merupakan pertama kali di bawah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Dia tak menampik, di satu tahun usia UPMI merupakan masa transisi, banyak tantangan yang harus dihadapi.

Salah satunya, tutur dia, terkait surat menyurat yang lama direspon karena menggunakan nama UPMI. Namun seiring waktu berjalan, dan tekad yang kuat, UPMI kini sudah mulai dikenal. “Saya tidak pernah menyerah. Apalagi putus asa, itu bukan kamus saya. Kini sudah mulai dengan nama UPMI,” tegasnya.

Pihaknya mengucap syukur. Karena atas dukungan dan tuntunan berbagai pihak, hampir seluruh instansi kini mengetahui nama UPMI. Sementara terkait wisuda, Made Suarta mengatakan bahwa wisuda ini hampir 95 persen telah diterima bekerja di berbagai dunia industri dan juga dunia usaha.

“Selain itu, enam mahasiswa kami sudah berhasil mempersembahkan emas dalam ajang PON Papua dari cabor kricket. Bahkan salah satu dosen kami lolos Pelatnas Sea Games,” ungkapnya.

Selain itu, salah satu dosen juga menjadi instruktur nasional oleh Kemendikbud. “Sekarang dosen kami sedang pendalaman kurikulum, Wayan Mudana ada di Malaysia. Dia akan menjadi intruktur yang mengajar dari Sabang sampai Merauke,” tuturnya.

Seiring dengan penggabungkan IT, pihaknya optimis mampu bersaing menciptakan SDM unggul. “Lulusan kami juga mendapatkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah berbasis IT yang dikeluarkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Nasional,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan IKIP PGRI Bali, IGB Arthanegara menambahkan, pihak yayasan telah menyiapkan berbagai sarana prasarana penunjang bagi mahasiswa UPMI. Seperti gedung, lab komputer, hingga lab bahasa. “Kami siapkan gedung berlantai empat, kendatipun kami tidak memungut uang gedung, hingga uang pendaftaran,” ungkapnya.

Dari segi dosen, lanjut dia, yayasan menyediakan 149 dosen terdiri dari 29 doktor, sedangkan sisanya S2. “Oktober ini tambah dosen doktor lagi satu, sehingga total kami memiliki 30 dosen bergelar doktor,” jelasnya seraya mengatakan bahwa dari 149 dosen, enam diantaranya merupakan lulusan SI IKIP PGRI Bali.

“Jadi walaupun kita di kampung tetapi hasilnya memuaskan. Biaya kuliah murah tapi hasilnya bukan murahan. Bahkan alumni kami sudah bergelar guru besar dan menjadi Rektor di Palangkaraya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Arthanegara mengungkap bahwa alumni UPMI juga tidak hanya berprofesi sebagai guru saja. Akan tetapi, kata dia, juga sukses diberbagai instansi. “Di antaranya Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta dan Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa. Jadi alumni kami tidak mengecwakan,” tandasnya. alt/pol

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.