Tangkal Wabah, Digelar “Ngelawang”

Pelaksanaan ngelawang di Desa Adat Taman sari, Kelurahan Tegalcangkring, Mendoyo, Jembrana, Jumat (11/9).
103 Melihat

JEMBRANA, posbali.co.id – Masyarakat Desa Adat Taman Sari, Lingkungan Munduk Anyar, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana mengadakan upacara ngelawang dengan tujuan membersihkan desa secara sekala dan niskala di saat pandemi Covid-19. Ritual ini dilakukan dengan ngiringan Sesuhunan Barong dan Rangda yang ada di Pura Dalem desa setempat, Jumat (11/9).

Upacara penangkal wabah (gering) yang dirangkai dengan upacara ngelawang ini dengan mengelilingi keempat banjar adat yang ada di Desa Adat Taman Sari. Iring-iringan yang melibatkan masing-masing banjar sebanyak 25 orang dilakukan secara estafet di setiap banjar atau batas wilayah banjar. Upacara ini bertujuan untuk mengembalikan atau menetralisasi (nyomia) para bhuta kala agar tidak mengganggu desa dan warganya guna terciptanya keseimbangan alam.

Bendesa Adat Taman Sari, Ketut Wita, didampingi Saba Desa, I Wayan Pinta, mengatakan, ngelawang yang dilaksanakan bertepan dengan hari suci Sugihan Bali atau menjelang rerahinan Galungan dilaksanakan pertama kali. “Upacara yang merupakan hasil kesepakatan prajuru bersama sabha desa dilaksanakan sebagai wujud menjauhkan umat dari wabah di masa pandemi Covid-19 ini. Terlebih menjelang pilkada,” ungkapnya.

Ngelawang desa ini dirangkai dengan upacara pecaruan eka sata. Dalam upacara ini, Barong dan Rangda yang beristana diiring dari ujung utara ke ujung selatan desa. Pada setiap peteluan (pertigaan) dan pempatan (perempatan jalan) serta di jaba pura, diberikan upacara pecaruan wates desa. Setelah membersihkan desa dari segala malapetaka atau ngelawang ini, Sesuhunan kembali distanakan di Pura Dalem Desa Adat Taman Sari. Selanjutnya krama desa melaksanakan persembahyangan bersama dipimpin Mangku Gede Pura Dalem.

Wayan Pinta menguraikan, menurut Lontar Masula-Masuli, bagi desa yang mempunyai lawatan agar ngelawang, yang didahului dengan penyucian buana alit dan buana agung dengan pecaruan manca sanak, nangluk merana di segara yang dilaksanakan oleh subak dan di catus pata dilaksanakan oleh desa pakraman. “Tujuan ngelawang dan nangluk merana ini untuk menyucikan sekala niskala atau segala merana yang mengganggu desa. Sehingga dengan dilaksanakannya upacara ini agar masyarakat desa hidup tenteram dan sejahtera serta jauh dari Covid-19, terlebih dalam menyambut pilkada yang momennya dalam pandemi seperti saat ini,” jelasnya. 024

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.