Tahun Ini, Desa Adat Tuban Tiadakan Tradisi Pasar Majelangu dan Pawai Ogoh-Ogoh

ist/ Pelaksanaan Rapat Kilat Prajuru Desa Adat Tuban pada Senin (16/3)
520 Melihat
MANGUPURA, POSBALI.co.id – Desa Adat Tuban, tahun ini sepakat meniadakan Tradisi Pasar Majelangu. Peniadaan Pasar Majelangu yang didalamnya berisi tradisi Med-Medan Desa Adat Tuban itu, merupakan salah satu poin hasil Rapat Kilat Prajuru Desa Adat Tuban pada Senin (16/3) lalu. Rapat tersebut dihadiri oleh Prajuru Desa, Prajuru Banjar Pesalakan dan Tuban Griya, Kelihan Pasar Majelangu, Kelihan Sekaa Teruna, Pemangku Gede Dalem, Kertha Desa, dan Kelihan Pecalang.

Bendesa Adat Tuban, Wayan Mendra menerangkan keputusan tersebut diambil, menindaklanjuti adanya 2 surat edaran yang dikeluarkan pemerintah propinsi Bali dan Pemkab Badung. Pertama adalah Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 7194 tentang Upaya Tindak Lanjut Terkait Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. Utamanya pada poin ke-5 yang mengarahkan agar meniadakan atau membatasi kegiatan-kegiatan keramaian hiburan dan kegiatan lainnya yang melibatkan massa. Kedua, yaitu Surat Edaran Bupati Badung Nomor 183 Tahun 2020 tetang Panduan Tindak Lanjut Terkait Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Badung. Dimana pada poin ke-5 Surat Edaran tersebut juga tersurat arahan yang sama.

Dalam rapat tersebut juga diputuskan terkait pembatasan atau penyederhanaan jumlah krama, dalam rentetan kegiatan Hari Raya Nyepi, seperti ketika pelaksanaan prosesi Melasti, Nyejer dan Persembahyangan di Bale Agung, serta Tawur Kesanga. Dimana pembatasan jumlah tersebut dilakukan bagi pelaksana dan penyangga Karya Yadnya, seperti Prajuru Banjar dan Desa Adat, Serati Banten, Juru Kidung, Sekaa Gong Alit, Pecalang, serta perwakilan keluarga saja. “Untuk prosesi Melasti kali ini juga dilakukan tanpa Ngaub Pratima, melainkan hanya Daksina Linggih saja. Ratu Ayu juga tidak Lunga, Peed juga tidak ada. Nanti Daksina berangkat dengan kendaraan ke Segara,”terangnya.

Selain itu, prosesi Nyejer di Bale Agung dan waktu persembahyangan juga dibatasi menjadi lebih singkat. Yaitu dari pukul 07.30 Wita hingga 16.00 Wita.  Demikian juga untuk prosesi Tawur Kesanga di Perempatan, yang waktu pelaksanaannya juga dipercepat dan tanpa melibatkan banyak krama.

Untuk pawai ogoh-ogoh sendiri, kali ini Desa Adat Tuban juga tidak melaksanakan hal itu. Namun dua ogoh-ogoh di antaranya tetaplah digotong menuju Perempatan, karena berkaitan dengan pelaksanaan prosesi upacara Tawur. Dua ogoh-ogoh karya dari Sekaa Teruna Bhuana Kusuma Pesalakan Tuban dan Pertiwi Canti Banjar Tuban Griya itu, nantinya akan dibawa ke Perempatan untuk Diprayascita dalam prosesi Tawur. Setelah itu, ogoh-ogoh akan Dipralina dan kemudian disimpan di masing-masing banjar. “Tidak ada Sasolahan, pawai ataupun fragmen tari, ataupun pemajangan. Ogoh-ogoh penggembira juga tidak boleh dikeluarkan atau diam di tempat. Dengan demikian, kami harap tidak akan timbul kerumunan masyarakat untuk menonton,”tegasnya. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.