Siwaratri Bukan Malam Penghapusan Dosa

Foto: Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba.
521 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Kamis (23/1) bertepatan dengan Panglong Kaping 14 Sasih Kapitu penanggalan Saka, masyarakat Hindu melaksanakan Hari Suci Siwaratri. Hari suci yang jatuh setahun sekali ini menjadi salah satu hari suci yang penting, sebab dipandang sebagai momentum terbaik memuja Dewa Siwa.

Siwaratri artinya adalah malam Siwa. Teks Kakawin Siwaratrikalpa gubahan Mpu Tanakung menjelaskan pada malam inilah Siwa sebagai entitas tertinggi dunia rohani menjalankan yoga. Barang siapa yang turut melakoni brata di malam tersebut, ia akan mendapat anugerah dari Siwa.

Namun, pada perkembangan selanjutnya di masyarakat, konsep ini dimaknai sebagai malam penghapusan dosa. Terkait hal tersebut, sulinggih, Ida Rsi Putra Yaksa Daksa Manuaba, kepada POS BALI di Denpasar, Rabu  (22/1) memberikan sejumlah pandangan. Menurut sulinggih yang ketika walaka dikenal sebagai Indra Udayana, Siwaratri bukanlah malam penghapusan dosa.

“Hindu tidak ada namanya penghapusan dosa, yang ada adalah menjalankan buah dari setiap karma yang dilakukan di dunia ini. Pelaksanaan Siwaratri mengajarkan kita berupaya mencapai keheningan Siwa atau (bahkan) menjadi Siwa,” jelasnya.

Momentum Siwaratri yang dilaksanakan setiap tahun, lanjutnya, merupakan kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sadhana (realisasi dharma, red) yang dilakuakan malam itu akan terakumulasi, sehingga melahirkan pikiran-pikiran positif yang dapat menuntun pada kebijaksanaan.

Siwaratri merupakan malam yang paling gelap, sekaligus malam yang paling hening. Hanya pada kondisi heninglah Siwa yang hening dapat ditemui. Tradisi Bali menyebut bahwa untuk memuja Siwa di malam Siwa, seseorang harus melakukan jagra (tidak tidur) semalam suntuk. Hal ini merupakan simbol dari upaya membuka kesadaran penuh tentang esensi diri.

“Siwa akan memberikan anugerah yang berlimpah di malam itu jika mampu jagra, artinya bangun dari mimpi panjang samsara kehidupan. Bagi penekun spiritual dan pandita mencantingkan Gayatri Mantra dan mantra pada Siwa menjadi kekuatan pengasahan mata batin dan pikiran suci untuk melakukan proses perubahan diri menjadi tercerahkan setelah hening dan penyerahan diri pada-Nya,” jelas sulinggih yang didiksa tahun 2019 ini.

Ida Rsi Manuaba menambahkan, pelaksanaanSiwaratri di India dan Indonesia tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Kedua tradisi mewarisi makna yang sama. “Tidak ada perbedaan esensi pelaksanaan Siwaratri di India dan di Indonesia, hanya penanggalan dan tradisinya yang berbeda. Di India, saat Siwaratri guru dan sisya akan bertemu dan berkesempatan mendapatkan pemberkatan,” terangnya.

Sementara itu, dari sisi teks Siwa Purana yang berkembang di India menyatakan Siwaratri sebagai peringatan atas turunnya Mahamrtunjaya Mantra dalam rangka menghidupkan kembali Candra. Malam itu disebut Siwaratri yang penuh anugerah. Sedangkan, Kakawin Siwaratrikalpa yang menjadi sumber pelaksanaan Siwaratri di Nusantara menceritakan kisah Lubdaka, seorang pemburu yang akhirnya dijemput Siwa ketika kematiannya tiba. Anugerah itu diperoleh lantaran Lubdaka secara tidak sengaja begadang ketika Siwaratri. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.