Seminar Alumni FIB-Unud, Tiga Peraih “Cum Laude” Jadi Pembicara

638 Melihat


 

 
DENPASAR, posbali.co.id – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) menggelar Seminar Alumni di Auditorium Widyasabha Mandala, FIB Unud, Rabu (2/10). Kegiatan digelar sebagai rangkaian Upacara Pelepasan Calon Wisudawan Periode ke-133 yang dilaksanakan Kamis (3/10).
 
Tiga penampil berpredikat dengan pujian (cum laude), yakni Dr. I Wayan Suryasa, S.S., M.Hum (doktor), Ni Luh Hani Rainna Wati, S.S. (sarjana bahasa), dan Luh Gede Ratna Citramanik, S.S. (sarjana non-bahasa) hadir sebagai pembicara. Kesempatan tersebut sejatinya turut menampilkan peraih predikat dengan pujian dari program magister, Putu Irmayanti Wiyasa, S.Pd., M.Hum., namun yang bersangkutan berhalangan hadir.
 
Suryasa yang merupakan mahasiswa Program Doktor Ilmu Linguistik FIB Unud angkatan 2015 menyajikan makalah berjudul “Pengalihan Kata Emosi Bahasa Inggris ke Dalam Bahasa Indonesia pada Teks Krsna”. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa terjemahan dan semantik sangat terkait dan mendukung dalam analisis kata emosi. “Analisis MSA (metabahasa semantik alami, red) memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman leksikon yang diteliti. Dalam hal ini bukan sekadar mencari kesepadanan, melainkan cara menyampaikan skenario kognisi dan efeknya dalam hasil terjemahan,” terangnya.
 
Selanjutnya, melalui makalah “Strategi Kesantunan Positif yang Digunakan oleh Tokoh-Tokoh dalam Film The Patriot”, Rianna Wati mengemukakan bahwa tokoh-tokoh dalam film The Patriot menggunakan 11 dari 15 strategi kesantunan positif. “Wanita cenderung secara konsisten menggunakan tingkat kesantunan netral dalam bicara, sedangkan pria lebih menggunakan tingkat kesantunan bervariasi dalam berbicara dengan lawan bicara,” jelasnya.
 
Kajian cukup berbeda disajikan oleh Citramanik. Mahasiswi Arkeologi yang berhasil menyelesaikan studinya dalam 4 tahun 1 bulan mempresentasikan makalah berjudul “Peran Tokoh Agama dalam Birokrasi Pemerintahan Raja Marakata”. Berpijak pada data prasasti yang dikeluarkan Raja Marakata antara tahun 944 Saka (1022 Masehi) hingga 962 Saka (1040 Masehi), ia menemukan bahwa kedudukan dan peran tokoh agama saling terkait.
 
“Gelar tokoh agama pada masa Raja Marakata ada bhiksu, pu/mpu, dang acarya, dan dang upadhyaya. Kedudukan dan peran tokoh agama saling berkaitan, ada yang berkedudukan di tempat suci dan pemerintahan. Perannya dalam birokrasi dibedakan sebagai rohaniawan maupun pejabat struktural atau fungsional. Mutasi jabatan dipengaruhi oleh kekuasaan raja,” terangnya.
 
Wakil Dekan I FIB Unud, Dr. Dra. Ni Made Suryati, M.Hum seizin Dekan FIB Unud, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., berharap para calon wisudawan yang akan dilepas dapat senantiasa berpikir kritis. Akademisi Sastra Bali ini mengingatkan agar para sarjana dapat menjaga etika kesantunan di masyarakat umum. “Komunikasi-komunikasi sehari-hari seorang terpelajar harus beretika. Selain itu juga harus kreatif untuk dapat eksis di era digital yang bergerak pesat,” harapnya.
 
Ada 89 orang calon wisudawan yang akan dilepas dalam upacara Pelepasan Calon Wisudawan Periode ke-133. Jumlah tersebut meliputi 6 orang dari Program Doktor Linguistik, 4 orang dari Program Doktor Kajian Budaya, 9 orang dari Magister Linguistik, dan 3 orang Magister Kajian Budaya. Dari jenjang S1, 5 orang merupakan lulusan Prodi Sastra Indonesia, 7 orang lulusan Prodi Sastra Jawa Kuno, 30 orang lulusan Prodi Sastra Inggris, 2 orang lulusan Prodi Arkeologi, 2 orang dari Prodi Sejarah, 10 orang dari Prodi Antropologi, dan 11 orang berasal dari Sastra Jepang. 015

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.