Seminar Alumni FIB Unud Tampilkan Tiga Pembicara

831 Melihat
Para pembicara dan moderator foto bersama usai pelaksanaan Seminar Alumni FIB Unud, Selasa (11/2).

DENPASAR, POSBALI.co.id – Tiga orang lulusan dari tiga strata berbeda tampil sebagai pembicara dalam Seminar Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud), di Auditorium Widyasabha Mandala Prof. Dr. Ida Bagus Mabtra, FIB Unud, Denpasar, Senin(11/2).

Ketiga pembicara yakni Dr. Yafed Syufi, S.S., M.A. (Prodi Doktor Linguistik FIB Unud), Desak Putu Andu Suarmini, S.Sos., M. Si. (Prodi Magister Kajian Budaya FIB Unud), dan I Made Exis Wijaya, S.S. (Prodi Sastra Inggris). Mereka membawakan makalah yang bersumber dari tugas akhirnya di hadapan 83 orang lulusan dari berbagai prodi yang ada di lingkungan FIB Unud.

Yafed Syufi, jebolan Prodi Doktor Linguistik yang berhasil mengantongi IPK 3,8 debgan lama stufi 3 tahun 3 bulan menyajikan makalah berjudul “Khazanah Leksikon Kesaguan Guyub Tutur Masyarakat Irires Papua Barat: Perspektif Ekolinguistik” menjelaskan bahasa dan lingkungan (ekolinguistik) merupakan representasi lingkungan, termasuk dalam khazanah leksikon kesaguan pada guyub tutur masyarakat Irires, Papua Barat.

Menurutnya, kosakata dalam bahasa Irires memiliki karakteristik dan keunikan yang tercermin dalam sistem proklitik dan sisem pemarkah yang sangat menonjol.

“Kata majemuk inversi misalnya mendow afei (daun sagu, red), leksikon yang lebih spesifik adalah mendir gid (belahan sagu bagian atas), mendir mow (belahan sagu bagian bawah), mendow agen-agen (pusar sagu), mendow afes (sagu laki-laki), dab mendow afaj (sagu perempuan),” terang akademisi Universitas Papua ini.

Suarmini, dalam makalah “Menyingkap Wacana Penggunaan Bahasa Adat Bali bagi Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Provinsi Bali” mengungkap bentuk relasi kuasa dan implikasi wacana tersebut. Tesis ini pun lahir sebagai respon atas terbitnya Pergub Bali No. 79 tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali.

Setelah melalui pengkajian mendalam, peraih predikat dengan pujian yang menyelesaikan studinya selama 1 tahun 4 bulan dan IPK 3,9 menemukan hal menarik.

Ternyata, wacana tersebut berimplikasi pada representasi kelas sosial yang ditandai dengan keinginan kelompok tertentu di kalangan ASN untuk membedakan diri dengan cara menambah aksesoris pada busana adat yang digunakan.

“Penerapan Pergub Bali No. 79/2018 menimbulkan hibridisasi budaya. Pada sektor ekonomu, wacana penggunaan busana adat Bali mampu mendorong omzet industri kecil menengah yang bergerak di bidang usaha tenun ikat,” papar perempuan yang sempat berkiprah sebagai jurnalis ini.

Sementara itu, Exis Wijaya, menyajikan makalah berjudul “Penghilangan dan Penambahan Informasi pada Terjemahan Novel Berbahasa Indonesia Cantik Itu Luka ke Beauty is a Wound”.

“Penghilangan informasi terjadi ketika unit yang diterjemahkan tidak dapat merepresentasikan keseluruhan komponen makna dari bahasa sumber, sedangkan penambahan informasi terjadi karena perubahan dari nuansa implisit unit sumber menjadi eksplisit, salah satunya karena modifikasi kata pinjaman. Faktor penyebabnya karena faktor linguistik dan budaya,” katanya.

Upacara pelepasan calon wisudawan di FIB Unud akan digelar Rabu (12/2). Adapun jumlah masing-masing lulusan dari setiap prodi meliputi 8 orang dari Prodi Doktor Linguistik, 2 orang dari Prodi Doktor Kajian Budaya, 9 orang dari Prodi Magister Linguistik, 7 orang dari Prodi Magister Kajian Budaya.

Selanjutnya ada 2 orang calon wisudawan yang akan dilepas dari Prodi Sastra Indonesia, 8 orang dari Prodi Sastra Bali, 2 orang dari Prodi Sastra Jawa Kuno, 22 orang dari Prodi Sastra Inggris, 10 orang dari Prodi Arkeologi, 4 orang dari Prodi Sejarah, 6 orang dari Prodi Sejarah, dab 3 orang dari Prodi Sastra Jepang. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.