Sebagai Tolak Bala, Calonarang di Tebesaya Tetap Digelar Meski Pandemi

Ritual Calonarang yang digelar setiap enam di Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar.
279 Melihat

GIANYAR, posbali.co.idAci atau ritual Calonarang setiap enam bulan di margi agung (jalan raya), jaba Pura Dalem Puri, Banjar Tebesaya, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar tetap dilaksanakan di saat pandemi Covid-19. Warga tidak berani mengabaikan ritual penolak gering atau tolak bala ini sehingga Calonarang tetap digelar, Minggu (11/10) malam, namun tanpa penonton.

Demkian pula tempat, waktu hingga durasi pertunjukan pun terpaksa menyesuaikan setelah pihak prajuru adat berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 Gianyar. Hal itu diungkapkan Kelian Banjar Tebesaya, I Gusti Ngurah Bajra, Minggu (11/10).

Berbeda dengan sebelumnya, pertunjukan Calonarang yang dipersembahkan secara rutin setiap rahina Redite Kajeng Kliwon Pujut, kali ini digelar dengan sederhana. Mengingat tradisi ini wajib digelar dan juga protokol kesehatan tetap terjaga, pemain dan penonton pun dibatasi. “Penabuh, penari, dan lainnya dipersembahkan sekaa teruna dan warga. Jadi, kami tidak menampilkan seniman-seniman dari luar desa,” ujarnya.

Dijelaskannya, semua prosesi dilaksanakan panitia. “Kami tidak membuat kalangan (panggung) khusus. Tempatnya pun kami pindahkan di jaba pura. Tapi pada puncak prosesi tetap dilaksanakan di margi agung,” jelasnya.

Sementara itu, Jero Bendesa Adat Peliatan, I Ketut Sandi, mengungkapkan, persembahan aci Panyalonarangan ini adalah prosesi penyucian jagat. Sesuai dengan isi Lontar Brahma Kertih dan Roga Sangara Bumi, karena keberadaan setra/kuburan berada di utara (nguluning jagat) Desa Adat Peliatan.

“Warga Desa Adat Peliatan, tidak berani tidak melaksanakan upacara yadnya tersebut, karena dulu pernah tidak melaksanakan, mengakibatkan terjangkit wabah penyakit sampai banyak warga yang meninggal dan banyak kejadian di luar akal sehat,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Sandi, sesuai hasil rapat Banjar Tebesaya, Desa Adat Peliatan dengan Satgas Covid-19 Gianyar, memutuskan yadnya aci Panyalonarangan tetap digelar dengan memperhatikan protokol. “Kami juga tidak ingin warga kami terpapar Covid-19, karena itu, kami tidak melibatkan penonton dan hanya panitia saja,” tegasnya.

Dari cerita warga, pementasan ini bermula dari sesaudan/sesangi yang diupah para saudagar yang berasal dari Ubud dan sekitarnya. Setiap kali para saudagar ini berjualan ke tempat jauh, selalu diawali dengan permohonan keselamatan pada sesuhunan yang malinggih (berstana) di Pura Dalem Puri.

Ketika itu perjalanan pedagang ini cukup jauh dan memakan waktu sampai bulanan. Daerah tujuannya menjangkau hingga Buleleng, Jembrana, Klungkung, Karangasem, dan daerah lainnya. Sekembalinya, para saudagar ini berpatungan menghaturkan sesangi-nya atas keselamatan dan rejeki yang diterima.

Ritual ini pun terus berjalan seiring dengan keyakinan krama. Namun, dalam perjalanan waktu, jumlah pedagang ini samakin menyusut dan beralih ke profesi lain. Akhirnya pementasan Calonarang sempat terputus beberapa tahun. Hingga akhirnya, warga terkena gering. Wabah aneh yang melanda ketika itu sangat mencemaskan warga. Penyebabnya diyakini karena tidak ada lagi persembahan aci Calonarang sebagaimana biasanya. Sejak itu pementasan Calonarang selalu dipersembahkan. 011

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.