Satpol PP “Serbu” Penambangan Pasir Liar di Bugbug

Satpol PP Karangasem turun sidak ke sejumlah pesisir pantai di Karangasem untuk menindak sekaligus menertibkan penambangan liar, Selasa (8/6/2021).
112 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Adanya penambangan pasir, kerikil dan batu pantai secara liar oleh oknum masyarakat di beberapa pesisir pantai di Karangasem, mengundang perhatian Satpol PP Karangasem. Selasa (8/6/2021) puluhan anggota Satpol PP Karangasem turun sidak ke sejumlah pantai untuk menindak sekaligus menertibkan penambangan liar tersebut. Sasaran operasi penertiban kali ini yakni areal Pantai Lepra, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem.

Berdasarkan informasi dari masyarakat, di pantai ini setiap hari ada kegiatan penambangan pasir, kerikil dan batu pantai secara ilegal. Begitu tiba di Pantai Lepra sekitar pukul 07.30, petugas tidak menemukan satu pun penambang liar yang tengah beroperasi di pantai. Namun, “sepinya” pantai tidak lantas membuat puluhan anggota Satpol PP yang dipimpin Kabid Trantib, I Made Begananda, menghentikan operasi.

Petugas kemudian disebar untuk melakukan penyelidikan, hingga akhirnya ditemukan satu tempat penampungan pasir pantai, batu dan kerikil pantai yang tidak jauh dari bibir Pantai Lepra. Di tempat penampungan material tersebut, petugas menemukan sejumlah warga tengah menaikkan pasir pantai, yang lebih sering disebut pasir melelo, ke dalam satu truk pengangkut pasir.

Mendapati kegiatan ilegal itu, petugas bergerak cepat mengamankan warga, termasuk sopir truk serta truknya, berikut material batu serta kerikil pantai sebagai barang bukti. “Kami temukan saat mereka tengah menaikkan pasir ke dalam truk. Rencananya, kata sopir truk itu, pasir mau dikirim ke Gianyar,” kata Begananda kepada awak media.

Selain pasir pantai, di lokasi penampungan di sebuah kebun dekat kandang babi itu, petugas juga menemukan ratusan karung batu dan kerikil pantai siap kirim. Karena barang bukti tersebut jumlahnya ratusan karung, petugas hanya mengamankan beberapa karung sebagai barang bukti. Sisanya langsung diambil tindakan, yakni merobek karung dan menebarkan isinya agar tidak diambil dan dijualbelikan oleh penambang.

Menurutnya, semua orang yang diamankan itu tidak mengakui sebagai pemiliknya; mereka kompak mengaku hanya sebagai buruh. Namun, saat dicecar material itu milik siapa, mereka berdalih tidak tahu. “Sangat janggal kalau mereka  tidak tahu atau mengakui siapa pemiliknya. Makanya mereka kami amankan untuk diproses lebih lanjut oleh PPNS kami,” lugasnya.

Penambangan pasir, batu dan kerikil pantai di Pantai Lepra tersebut, ulasnya, terjadi sejak lama. Hanya, petugas harus “kucing-kucingan” dengan para penambang di sana. Sebab, seolah para penambang dapat “mencium” setiap kali petugas atau Tim Yustisi melakukan penertiban. Penambangan liar ini, sambungnya, selain melanggar perda, juga merusak lingkungan karena menjadi salah satu pemicu makin parahnya abrasi pantai.

Sopir truk yang mengangkut pasir, I Wayan Suarsana, kepada awak media mendaku tidak tahu siapa pemilik pasir pantai tersebut. “Saya hanya mengangkut saja Pak. Untuk satu truknya sebesar 400 ribu sampai lokasi di Gianyar,” kilahnya.

Didesak apakah sering membeli pasir melelo dan di mana saja membeli, Suarsana memilih bungkam. Dia bersama warga lainnya kemudian digiring petugas menuju kantor Satpol PP untuk diproses lebih lanjut. 017

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.