Rumah Topeng Sanur Berawal dari Kunjungan Tamu Jepang Temui Made Kara

I Made Kara (tengah) pemilik Rumah Topeng Sanur diapit pembawa acara Ruang Pusaka dalam gelaran Denfest 2020.
607 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Gelaran Denpasar Festival (Denfest) ke-13 Tahun 2020 dalam mata acara Ruang Pusaka pada Jumat (18/12/2020) lalu menghadirkan seniman sekaligus pemilik Rumah Topeng, I Made Kara, secara virtual.

Dipandu dua orang pembawa acara yakni AA Bagus Mantra dan Joni Agung, Made Kara memaparkan secara detail perjalanan Rumah Topeng Sanur. Dia menceritakan perjalanan Rumah Topeng bermula dari kehadiran wisatawan asal Jepang untuk melaksanakan perjalanan spiritual.

“Karena dia datang ke rumah, dan dia merasa bahwa ada aura tertentu di rumah saya, dari sana ingin untuk memahat topeng dengan bahan ala kadarnya, saat itu hanya ada kayu jepun,” ujarnya.

De Kara mengatakan seni topeng diperkirakan aktif dipentaskan di Sanur sejak tahun 1973. Tokoh topeng yang terkenal kala itu berasal dari Sindu Kaja dengan taksu topeng yang khas. Bahkan dalam pementasanya mampu menyajikan pentas topeng berbahasa Inggris. “Sehingga ada istilah my name is mister two tut, artinya topengnya ada dua gigi,” katanya.

Setelah itu, setiap pukul 19.00 malam rutin digelar pementasan di Pura Segara Sanur untuk pariwisata. “Di sini kita hadir untuk kembali membangkitkan seni di Bali, dan selalu menghormati beliau sebagai perintis dan penggerak topeng itu sendiri,” jelasnya.

Seiring perjalanan Made Kara yang juga sempat menjadi pemandu wisatawan Jepang dan klian adat ini aktif kembali di dunia seni topeng dan pahat topeng tahun 2015 lalu. Dalam berkarya membuat topeng, dia tidak pernah menemui kepuasan dan menganggap belum berhasil. Bahkan karena ketidakpuasan itu topeng terus dikerjakan hingga rusak.

Dari sana muncul keinginan untuk mencari guru. Ida Bagus Alit Pidada dari Griya Sindu Sanur dipilih untuk menjadi gurunya. “Di sana diajarkan tentang gegulak dan sikut. Dari sana banyak karya tapel yang sudah diselesaikan,” ujar Made Kara.

Made Kara menjelaskan bahwa di wilayah Sanur sangat terkenal dengan seniman pahat, baik pematung maupun seniman pembuat topeng. Dari sanalah muncul keinginan untuk membangkitkan seni pahat di Sanur.

“Rumah Topeng ini digunakan untuk sanggar, sehingga bebas berekspresi dalam seni pahat topeng. Jadi anak SD dan SMP silahkan belajar, nanti sudah selesai tapelnya dibawa pulang,” kata De Kara.

Dia menambahkan, dengan adanya Rumah Topeng ini dirinya kumpulkan berbagai seniman, baik itu seniman ogoh-ogoh dan seniman lainnya. Sehingga, mampu menjadi Rumah Topeng untuk Denpasar ke depannya. Dia berharap eksistensi seni pahat di Kota Denpasar dapat terus berlanjut dan lestari.

De Kara mengungkapkan saat ini terus berkarya, namun terkendala bahan baku, baik ketersediaan maupun biaya pembelian. “Kayu pule yang paling baik untuk topeng. Namun untuk yang tidak sakral bisa menggunakan kayu suar,” tutup De Kara. rap

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.