Relokasi Sampah TPA Peh Dipastikan Aman

Komisi III DPRD Jembrana saat sidak ke TPA sampah di Dusun Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Selasa (8/6/2021).
227 Melihat

JEMBRANA, posbali.co.id – Ketua Komisi III DPRD Jembrana, I Dewa Putu Mertayasa, bersama anggota melakukan sidak guna memastikan rencana relokasi atau pemindahan sampah yang menggunung di TPA Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Jembrana dan lokasi relokasi yang juga berada di Banjar Peh, Selasa (8/6/2021). Rombongan DPRD didampingi Kadis Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (LHKP) Jembrana, I Wayan Sudiartha.

Dewa Putu Mertayasa mengatakan, relokasi tumpukan sampah di TPA Peh akan dilakukan di lahan 10 are milik warga yang merupakan bekas galian C yang sudah tidak produktif. Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada warga yang sudah menyerahkan lahannya untuk menjadi relokasi sampah dari TPA Peh. “Jadi, ini sama-ama diuntungkan. Pemkab bisa mendapatkan solusi penanganan sampah yang sudah menggunung di TPA Peh dan lahan warga yang merupakan bekas galian C cukup dalam bisa tertutupi kembali,” katanya.

Lebih lanjut Mertayasa mengatakan, sebenarnya lahan galian C itu luasnya satu hektar, namun karena sebagian pemiliknya tidak ada di Jembrana sehingga perlu koordinasi lebih jauh. Untuk itu, pihaknya mengharapkan agar Dinas LHKP memaksimalkan lagi sosialisasi kepada masyarakat di sekitar relokasi. Karena upaya pemindahan tumpukan sampah yang sudah lama merupakan solusi untuk mengurangi volume sampah di TPA. “Masyarakat di sekitar lokasi memang harus diberikan jaminan keamanan akan dampak relokasi sampah,” jelasnya.

Saat Komisi III DPRD Jembrana mendengar penjelasan dari Kadis LHKP kalau relokasi menggunakan sistem sanitary landfill (timbun sampah), dipastikan sampah yang dipindahkan tidak berbahaya karena sudah cukup lama menumpuk dan berbaur menjadi tanah atau dekomposisi. Nantinya di dasar tanah eks galian C yang direlokasi sebelum ditumpuk dengan sampah akan dipasang bio membran agar bila ada serapan air tidak terserap ke tanah dan mencemari sumber air warga.

Kadis LHKP Wayan Sudiartha mengakui sebelumnya memang masih ada keraguan dari masyarakat terhadap teknologi yang diterapkan. “Jadi ini bukan sampah baru yang kami relokasi ke lokasi bekas galian C, namun sampah yang lama dan menggunung di TPA Peh. Ini tujuannya agar usia TPA bisa lebih lama. Dan tumpukannya berkurang. Demikian juga tidak ada TPA baru,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dengan sistem sanitary landfill (timbun sampah) bisa mengurangi 80 persen sampah. “Terhadap keraguan warga, kami menjamin ini aman bagi lingkungan karena kami sudah lakukan kajian dan akan lakukan tes air. Kami harus bisa membuktikan ini benar-benar aman bagi generasi mendatang,” jelas Sudiartha.

Sudiartha menambahkan, penanganan sampah ini hanya salah satu cara. Jika pemerintah mampu dan punya dana besar, katanya bisa menggunakan incenerator dengan pemanasan tinggi dan itu dananya Rp50 miliar. “Kalau dengan sistem sanitary landfill berkisar Rp 3 miliar,” ujarnya.

Dia berharap masyarakat mempercayakan masalah tersebut ke pemerintah. “Kami pasti selalu berada untuk masyarakat. Malah gunungan sampah yang menjadi permasalahan lebih berat dibandingkan sistem sanitary landfill. Kami akan buktikan ini tidak main-main dan tidak merugikan. Yakin ini aman,” pungkasnya. 024

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.