Rektor Unhi Ajak Umat Hindu di Bali Jaga Kerukunan

Webinar Potret Kerukunan Umat Beragama di Pulau Dewata, Rabu (25/11), menghadirkan tiga orang narasumber.
189 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar menggelar Webinar Potret Kerukunan Umat Beragama di Pulau Dewata, Rabu (25/11). Webinar yang menghadirkan tiga orang narasumber ini dibuka oleh Rektor Unhi, Prof Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S. Dari hasil diskusi ini diharapkan ada rumusan-rumusan yang konstruktif dan produktif terkait dengan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga Bali tetap rukun dan damai.

Rektor Unhi mengatakan webinar ini adalah kelanjutan dari sarasehan yang diselenggarakan beberapa bulan lalu di Unhi dengan mengundang beberapa narasumber dari universitas berbasis keagamaan. Dijelaskannya, saat ini situasinya memang sangat diperlukan bagaimana menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Bali pun wajib menjaga kerukunan umat beragama, terlebih Pulau Dewata sebagai tujuan pariwisata internasional. “Oleh karena itu, Unhi mengadakan webinar ini,” ujarnya.

Selain itu, Bali sebagai barometer Hindu di Indonesia, diharapkan tetap menjadi contoh kerukunan. Dikatakannya, sesuai dengan apa yang terkandung di dalam Atharwa Weda, prinsipnya adalah bagaimana saling menghargai dan memberikan kedamaian kepada seluruh umat, yang berbeda agama, berbeda suku bangsa, dan bahasa. “Kerukunan jangan diartikan mengalah, diapakan saja mau. Kerukunan kuncinya adalah saling menghargai dan memberi kedamaian satu sama lain,” kata Prof Damriyasa.

Lebih lanjut Prof. Damriyasa mengatakan, tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini agar jangan sampai terusik kerukunan beragama yang terjaga selama ini di Bali. Di samping juga saat ini Bali sangat terpuruk di sektor pariwisata, maka untuk mempersiapkan berikutnya tentunya wajib menjaga kerukunan di Bali. “Jadi, yang kita laksanakan di sini adalah bagaimana menjaga kerukunan di dalam umat Hindu sendiri sebelum kita menjaga kerukunan dengan umat yang lain maupun dengan pemerintah,” katanya.

Salah seorang narasumber, Pinandita I Ketut Pasek Swastika, memaparkan bukti Bali sebagai tempat kerukunan dapat dilihat dari, orang Bali menyebut siapa pun dari agama atau suku lain sebagai nyama atau saudara. Ada Nyama Selam (Islam), Nyama Cina, Nyama Kristen, dan lainnya. Dalam agama Hindu ada disebut wasudewa kuthum bhakam (sejatinya kita bersaudara). Ajaran lainnya, Tatwam Asi dan Athiti Dewa Bhawa.

Selain itu, tempat ibadah, banyak contoh di Bali di dalam pura terdapat tempat ibadah agama lain. Seperti Pura Langgar di Bunutin, Bangli. Di Pura Gambur Anglayang (Buleleng) juga ada pelinggih penghormatan untuk agama dan keyakinan lain. Hal serupa ditemukan di Pura Batur, dan beberapa pura lainnya. Ada pula tradisi ngejot antarumat beragama. “Di Karangasem pun ada tradisi ngayah atau gotong royong krama Bali bersama Nyama Selam di pura maupun di subak,” ungkap Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali ini.

Sementara itu, I Gede Nurjaya dari Majelis Desa Adat (MDA) Bali dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa desa adat di Bali berlandaskan nilai-nilai agama Hindu. Ada sejumlah hal yang mesti dilakukan dan diperbaiki dalam penguatan umat Hindu di desa adat. “Upayakan, jangan sampai terjadi kekisruhan di Bali, karena Bali barometer kerukunan di Indonesia bahkan di dunia, terbukti dikunjungi pejabat-pejabat dari luar negeri,” kata Nurjaya.

Webinar ini juga menghadirkan Ida Bagus Ketut Susena dari LSM Puskor Hindunesia. Menurut Gus Susena, toleransi jangan dimaknai sebagai kebebasan yang kebablasan atau sesuatu yang diberikan keleluasaan tanpa batas. Ia menjelaskan, di Bali bahwa penerimaan segala sesuatu melalui penyaringan yang bagus oleh leluhur dulu sehingga menerima hal-hal baiknya saja. Ia juga mengatakan, dalam menjaga kerukunan, di Bali dikenal konsep manyama braya yang menganggap bahwa semua orang sebagai saudara atau keluarga besar. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.