Reaktivasi Pedagang Pantai Kuta

398 Melihat
Suasana pantai Kuta sepi dari aktifitas pedagang pantai

MANGUPURA– Rencana reaktivasi pedagang pantai Kuta tahap pertama yang diperuntukan khusus krama Ngarep, akan dilakukan setelah desa adat Kuta melakukan upacara mapakeling di segara, tanggal 15 Nopember. Sejauh ini pihak Desa Adat Kuta telah melalukan pendataan pedagang, yang nantinya akan dihimpun dalam SIM Daku (Sistem Informasi Manajemen Desa Adat Kuta).

Selain diberikan nomor baru, pedagang juga dilengkapi ID dan menggunakan kostum. Sehingga membuat pengawasan menjadi lebih mudah dan lebih akurat.

Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista menerangkan, reaktivasi pedagang pantai dengan mendata ulang pedagang. Dimana krama ngarep yang berdagang di aset yang dikelola desa adat tidak diperbolehkan memiliki nomor ganda. Dalam artian dalam satu KK hanya diperbolehkan memiliki satu nomor berdagang di aset yang dikelola desa adat Kuta. Entah itu  di pasar Seni 1 dan 2, pasar Senggol 1 dan 2, serta pedagang pantai.

Hal itu diberlakukan untuk menciptakan azas pemerataan bagi krama ngarep yang belum memiliki pekerjaan atau belum memiliki pendapatan. “Mereka boleh mengajukan permohonan ke masing-masing banjar. Disana akan di cek kembali apakah mereka benar belum memiliki no berjualan, jika benar maka itu akan menjadi prioritas,”terangnya.

Pemberlakuan aturan tersebut diakuinya tentu akan membuat pengurangan jumlah pedagang yang berada di pantai Kuta. Jika sebelumnya jumlah pedagang pantai yang terdata 1168 pemilik, kini jumlah mereka diyakini tidak sampai 500 pedagang, karena diseleksi. Mereka yang memiliki nomor ganda diminta memilih dimana mereka akan diberikan no berdagang. Apakah itu di pantai saja, di pasar seni, maupun di aset lainnya yang dikelola desa adat Kuta.

“Kuota jumlah pedagang pantai nantinya disesuaikan dengan luasan area pantai. Jadi 500 pedagang pantai itu akan tersebar dari ujung utara pantai Kuta sampai ke ujung selatan (pantai Sekeh). Semua pedagang itu nantinya membuka lapak, tidak boleh ada lagi yang mengacung. Mereka akan dibatasi dengan area joging track, sesuai konsep penataan pantai Samigita (Seminyak, Legian, Kuta),”paparnya.

Pihaknya meminta pedagang memaklumi hal tersebut. Sebab demi menjaga estetika dan menata ketertiban pantai Kuta. Selain pedagang makanan, penataan tersebut juga akan menyentuh pedagang jasa seperti massage penyewaan papan surfing dan lainnya, yang keberadaannya akan diakomodir dengan peruntukan tempat.

Penataan itu akan dilengkapi dengan kedai kopi, seiring dengan rencana agar pantai Kuta bisa tetap beroperasi hingga malam hari. “Untuk tahap pertama ini kita khusus menata krama ngarep dulu. Setelah penataan pantai Samigita selesai dilakukan, baru dilakukan penataan pedagang tahap 2 dengan mengakomodir pedagang non adat. Nanti itu tergantung kewenangan pak bupati untuk penataannya,”jelasnya. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.