Pura Pasar Agung Batur Dibangun Sejak 2009

Jero Gede Batur Duwuran berfoto di Madya Mandala Pura Pasar Agung Batur
Jero Gede Batur Duwuran berfoto di Madya Mandala Pura Pasar Agung Batur
1,222 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Upacara mlaspas, ngenteg linggih, dan mendem padagingan di Pura Pasar Agung Batur pada Minggu (3/11) merupakan muara dari proses pembangunan pura yang memakan waktu tak sebentar. Pembangunan pura yang kini berdiri megah itu setidaknya telah dimulai sejak 2009 silam.

Jero Gede Batur Duwuran (Kanginan) menuturkan, pembangunan pura tak terlepas sradha bakti umat, khususnya krama Desa Adat Batur untuk membangun kembali pura tersebut. Rangkaian erupsi Batur dipercaya telah melahap sejumlah peradaban Batur Kuno, termasuk Pura Pasar Agung Batur dan wilayah Desa Batur Kuno (erupsi 1926).

Pasca direlokasi oleh pemerintah Kolonial Belanda pada 1928 ke kawasan desa saat ini di pinggiran Kaldera I Batur, Pura Pasar Agung Batur hanya ditandai oleh sebuah palinggih pertiwi rong dua yang kini berada beberapa puluh meter di bawah pura saat ini. “Dulu akses menuju kawasan ini sangat sulit, berbeda dengan sekarang yang telah dibangun jalan. Karena sekarang teknologi juga sudah memungkinkan, kami bahu membahu membangun, dan selama hampir 10 tahun dibangun, akhirnya bisa terselesaikan,” terangnya.

Pembangunan Pura Pasar Agung Batur dibangun dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Hampir seluruh palinggih, meru, kori agung, dan candi-candi dibuat dengan batuan Batur yang khas, sehingga menghadirkan nuansa yang sangat berkarakter.

“Mungkin menjadi kekuasaan dan kehendak Ida Bhatari, pura ini dapat hadir seperti tampak saat ini atas dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga swasta. Dengan kehadiran pura ini, kita tentu bersama-sama berharap bumi Bali dan masyarakatnya diberi kesejahteraan oleh Ida Bhatari,” harap Jero Gede Batur Duwuran sembari menegaskan pura tersebut merupakan milik umat sedharma.

Terkait lokasi pura, pegiat literasi Batur, I Wayan Sukadia memiliki pandangan berbeda. Tokoh yang telah menulis sejumlah buku terkait tradisi dan sejarah Batur menduga posisi Pura Pasar Agung Batur sebelumnya terletak di kawasan yang disebut dengan Pura Genya.

Kawasan itu terletak beberapa ratus meter dari bangunan pura sekarang, yang berada di antara gundukan batu yang disebut penduduk setempat sebagai Batu Genya. Di kawasan suci tersebut saat ini masih dapat ditemui sejumlah palinggih pertiwi dan sebuah padmasana.

“Di bawah Pura Pasar Agung sekarang ada kawasan yang disebut penduduk sebagai Puradnya atau Pura Genya. Pura Genya sama dengan Pura Pengenyahan yang artinya tempat Bhatara-bhatari memasar atau sebagai jeneng Bhatari,” katanya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.