Program Santunan Amerta Dinilai Tidak Akuntabel, Pengelolaan Pasar Dicurigai Banyak Kebocoran

Suasana debat kandidat kedua Pilkada Denpasar 2020, Sabtu (28/11/2020) malam lalu. Karena ini debat terakhir, kedua paslon saling serang dengan isu lebih spesifik.
253 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Kesempatan terakhir untuk pamer segala keunggulan diri dan membeber kelemahan lawan secara langsung di televisi, dimanfaatkan paslon IGN Jaya Negara-Agus Arya Wibawa (Jaya Wibawa) dan Ngurah Ambara Putra-Bagus Kertha Negara (Amerta) saat debat kandidat Pilkada Denpasar, Sabtu (28/11/2020) malam. Debat mengangkat tema sinergitas antara pemerintah kota dengan provinsi dan pusat, dengan moderator Gde Suardana.

Jaya Wibawa menguliti program santunan tunai yang diunggulkan Amerta sebagai program tidak realistis, sedangkan Amerta menuding rendahnya pendapatan pasar yang dikelola PD Pasar, dengan Jaya Negara sebagai Wakil Wali Kota petahana, sebagai tanda terjadi kebocoran.

Saling serang terjadi ketika moderator membuka sesi debat eksploratif. Ketika sesi menanggapi jawaban lawan atas pertanyaan panelis, kedua kubu masih sibuk untuk menguraikan visi-misi masing-masing dengan penekanan pada isu tertentu. Amerta mengulang Kembali uraian program santunan, sedangkan Jaya Wibawa menitikberatkan pada melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Mendapat kesempatan pertama bertanya, Ambara menanyakan upaya paslon nomor urut 1 tentang menyelesaikan masalah narkoba di Denpasar, yang angka kasusnya 50 persen di Bali. Kertha Negara menyoroti rendahnya pemasukan pasar di Denpasar, yang hanya Rp300 juta setahun. Padahal pasar yang dikelola desa adat saja nilainya sama dengan itu, dan ini disimpulkan sebagai tingginya tingkat kebocoran pengelolaan keuangan.

Jaya Negara menjawab selama ini selalu berkoordinasi dengan BNN selaku ujung tombak penanganan narkoba, dan lebih mengedepankan memberi ruang anak muda berkreativitas di Gedung Dharma Negara Alaya. “Kami juga melaksanakan Youth Festival untuk memberi ruang anak muda inovatif untuk menuju dari era industri dari 4.0 ke 5.0. Untuk pengelolaan pasar, selama ini kami mengedepankan menampung tenaga kerja,” urainya.

Serangan balasan dilancarkan Arya Wibawa dengan menyoroti program santunan untuk sekaa teruna, banjar, dan PKK yang ditawarkan Amerta. Dengan APBD Denpasar defisit Rp 100 miliar pada tahun 2021, dia mempertanyakan bagaimana cara pemerintah menitikberatkan bantuan ke masyarakat tanpa merusak kesehatan fiskal? Di sisi lain prinsip anggaran harus efisien, transparan, dan akuntabel. “Program bantuan itu tidak menganut prinsip anggaran, karena tidak terukur, tidak akuntabel, dan hanya sekadar janji ke rakyat,” serunya.

Menangkis itu, Ambara mengklaim masih banyak potensi yang bisa digali di Denpasar, antara lain UMKM kuliner yang banyak terdapat di Denpasar. Selain itu, dia optimis anggaran bantuan bisa diperoleh dari penerapan digitalisasi pendapatan daerah secara terintegrasi.  Hanya, dari keseluruhan jawaban, inti persoalan sumber anggaran untuk santunan di tengah kondisi defisit tidak teruraikan secara lugas.

Kertha Negara menambahkan, jika terpilih kelak, Amerta tidak mau menengadahkan tangan kepada Pemprov dan Pusat sebagaimana dimaknai dari visi misi Jaya Wibawa. Dia juga mengklaim bersama Ambara dipilih sebagai kandidat oleh parpol karena berlatar belakang pengusaha. “Jika kita bisa mandiri, kenapa tidak?” sergahnya.

Tudingan terjadi kebocoran pendapatan dari seluruh pasar yang dikelola Pemkot selama ini juga kembali diulang. “Dengan mengelola 16 pasar di Denpasar, sebenarnya uang berlimpah. Mungkin paslon 1 tidak tahu kalau selama ini ada kebocoran besar di bawah,” sindirnya.

Tidak mau isu kebocoran jadi “mimpi buruk” citranya dalam kontestasi, Arya Wibawa balas menyindir mengelola pemerintahan tidak sama dengan perusahaan. Bagaimana membangun sinergitas antara pemkot, pemprov, dan pusat jadi titik ungkit bangkit dari dampak pandemi Covid-19. Karena semua kabupaten di Indonesia terdampak, pusat mengucurkan bantuan agar digunakan untuk kepentingan pemulihan ekonomi daerah. “Ini bukan menengadahkan tangan untuk dana, ini sinergitas mengelola pemerintahan,” ulasnya.

Pada sesi pernyataan penutup, Jaya Wibawa menguraikan kompleksitas tantangan di Denpasar. Semua ini diyakini dapat diselesaikan dengan kemenangan paslon ini pada 9 Desember nanti. Sementara Amerta mengingatkan jangan sampai warga kehilangan kesempatan mendapat santunan yang ditawarkan, sembari tetap menyoroti rendahnya pendapatan di Denpasar. “Dan kami tegaskan, jika dalam setahun atau dua tahun tidak tercapai, kami siap mundur,” janjinya. hen

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.