Program FCC Mesti Disertai ‘Timeline’

IGN Rai Suryawijaya
144 Melihat

DENPASAR, POS BALI – Ketua PHRI Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengapresiasi terobosan pemerintah pusat melalui Kemenparekraf yang mendorong Program Free Covid Corridor (FCC) dan travel bubble untuk pemulihan pariwisata Bali. Namun, dia berharap program tersebut harus ada timeline (rencana kegiatan) untuk memastikan kapan dan seperti apa bentuknya secara detail.

Menurut Gung Rai—sapaan akrabnya, timeline itu penting karena menyangkut target dan tahapan menuju dibukanya international border terhadap wisatawan mancanegara. Dengan adanya timeline, pemerintah bersama komponen pariwisata bisa menyiapkan diri, termasuk sosialiasi kepada mitra bisnis di luar negeri—khususnya negara-negara yang masuk dalam program travel bubble dan FCC.

“Misalnya pemerintah pusat dan pemprov Bali menetapkan international border akan dibuka Juni atau Juli 2021, ya mulai sekarang kita siapkan untuk soft-reopening-nya. Dengan begitu, ada kepastian, ada harapan untuk memacu semua pihak, bagaimana memenuhi target itu. Jadi tidak mengambang, kapan dibuka tidak jelas. Di luar sana juga menunggu, kapan Bali dibuka. Di sini kita menunggu, kapan negara-negara di luar buka. Kalau saling menunggu, kapan pemulihannya,” ujar Gung Rai saat dihubungi di Denpasar, Rabu (3/3/2020).

Dia yakin, Bali sudah layak dibuka dalam empat-lima bulan ke depan. Alasannya, sebagaimana dikemukakan Menko Investasi dan Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, trend terkonfirmasi positif Covid-19 di Bali sudah mulai menurun. Walau masih tiga digit, namun sudah melandai. Demikian juga angka kesembuhan mencapai 90 persen. Ditambah lagi tingkat kepatuhan terhadap Prokes di Bali termasuk yang tertinggi di Indonesia. “Faktor-faktor yang positif ini tentu membuat Bali dipercaya oleh negara-negara yang vaksinasinya sudah masif,” urainya.Tanpa menyepelekan aspek kesehatan, Gung Rai mengaku, para pengusaha dan pelaku pariwisata saat ini sangat berharap ada breakthrough atau terobosan dari pemerintah. FCC dan travel bubble merupakan bentuk terobosan oleh pemerintah bersama pelaku pariwisata. Sebab, sudah ada sejumlah kota di empat negara yang siap melakukan direct flight (terbang langsung) ke Bali. Keempat negara itu yakni China (empat kota provinsi)), Korea Selatan, Dubai – Uni Emirat Arab dan Singapura.Terkait dengan timeline tersebut dia berharap agar pemerintah pusat satu suara dan punya komitmen yang sama untuk memulihkan pariwisata, termasuk Bali. Jangan seperti beberapa hari terakhir, Menko Investasi dan Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengisyaratkan penerbangan internasional di Bali segera dibuka secara terbatas, namun Menko Perekonomian Airlangga Hartarto justru mengatakan, Indonesia belum membuka sampai akhir tahun ini. “Mohon maaf, ini sangat membingungkan. Bisa menurunkan imun,” seloroh Gung Rai.

Khusus untuk pariwisata Bali, dia mengusulkan tiga hal yang mesti diperhatikan oleh pemerintah pusat. Pertama, vaksinasi yang lebih massif di Bali sampai menyentuh angka 70 persen wajib vaksin dengan prioritas masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata. Kedua, segera mewujudkan soft loan untuk pengusaha industri pariwisata. Ketiga, perlu timeline untuk reopening international tourists ke Bali dan beberapa destinasi pariwisata super prioritas.

Khususnya yang terakhir, bila sudah ditetapkan Juni atau Juli reopening international tourists maka semua pihak lebih fokus untuk menurunkan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Bali. Misalnya dari tiga digit menjadi dua digit. Syukur-syukur kalau bisa 1 digit. “Oleh karena itu jangan hanya Pak Gubenur dan Pemprov yang bergerak. Bupati/wali kota sampai camat seluruh Bali juga harus turun untuk memastikan ditaatinya protokol kesehatan. Ini khan untuk kepentingan bersama,” serunya.

Di sisi lain, Gung Rai memastikan bahwa industri pariwisata melalui masing-masing asosiasi sudah berkomitmen untuk menerapkan CHSE. CHSE merupakan penerapan protokol kesehatan di industri pariwata dan usaha ikutannya yang berbasis pada Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment Sustainability (kelestarian lingkungan). “Kami hampir setiap hari mengingatkan ini, terutama bagi usaha pariwisata yang masih buka,” ungkap Gung Rai. gre

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.