Potensi Terapeutik Kearifan Lokal

Foto: Dosen Bimbingan dan Konseling yang juga konselor di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Denpasar, Bali, Dr. Rr Dwi Umi Badriyah, M.Pd., Kons.,
320 Melihat

‘UPMI Berhasil Membuat Inovasi dalam Bimbingan dan Konseling’
DENPASAR, posbali.co.id – Kita terlalu sering mengagung-agungkan metode bimbingan dan konseling dari Barat. Pada saat yang sama, kita terlalu merendahkan kearifan lokal dan enggan menggali potensi terapeutiknya serta mengadopsinya dalam upaya membimbing dan konseling siswa ke arah prilaku positif. Sementara itu kenakalan remaja semakin meningkat.

Terpanggil oleh fakta itu, Dosen Bimbingan dan Konseling yang juga berprofesi sebagai konselor di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Denpasar, Bali, Dr. Rr Dwi Umi Badriyah, M.Pd., Kons., yang akrab disapa Roro Ningrum meneliti potensi kearifan lokal, dan menerapkannya dalam praktik guidance and counselling untuk para siswa di Bali.

“Kearifan lokal asli Bali itu bersumber pada ajaran nilai spiritual-etis Danghyang Dwijendra, seorang guru spiritual,” jelas doktor ke 27 yang dilahirkan UPMI Denpasar ini, Selasa (23/2).

Dalam penelitiannya yang dituangkan dalam sebuah disertasi dan dipertahankan di Universitas Negeri Semarang, promovenda berhasil membuktikan bahwa nilai spiritual-etis tersebut efektik dan efisien dalam membentuk karakter dan mengubah prilaku siswa di Bali.

“Dari prilaku maladaptif menjadi prilaku adaptif atau perilaku adarma (tidak baik, red) menjadi perlilaku darma (baik, red) selaras dengan nilai-nilai luhur kehidupan masyatakat Bali,” imbuhnya.

Dia mengatakan, salah satu nilai luhur itu adalah ‘prami patena’, penguasaan ilmu dan teknologi yang sebanding dengan penguasaan prilaku moral, etis dan pengabdian kepada Tuhan. Kesebandingan penguasaan itulah yang tertuang pada misi sekolah.

“Untuk mencapai kesebandingan itu pendekatan Bimbingan dan Konseling berfokus pada pemulihan destorsi kognitif yang timbul akibat pengalaman traumatis-psikologis,” jelas doktor dengan predikat sangat memuaskan (nilai A) ini.

Lebih jauh, Roro Ningrum menguraikan teori nilai spiritual-etis Dwijendra dalam upaya perubahan prilaku melalui proses bimbingan dan konselling. Kata dia, nilai tersebut bisa dibagi menjadi empat subnilai: yogasana, upakara,seni dan dharmayatra. Secara singkat uraiannya sebagai berikut.

“Yogasana adalah teknik perubahan prilaku yang memusatkan perhatian pada relaksasi dan meditasi. Melalui yogasana seseorang berupaya melepaskan prilaku negatif dan menggantinya dengan prilaku positif. Upakara adalah perlengkapan untuk membuat ritus menjadi hidup dan sempurna. Untuk diperlukan latihan karena ia merupakan bagian pendidikan sosial keagamaan. Seni adalah teknik yang berkaitan dengan model simbolis dan proses meditasi. Dharmayatra adalah perjalanan suci dengan tujuan pensucian diri melalui do’a kepada Sanghyang Widhi,” urainya.

Bagi generasi muda Bali, jelas dia, mengikuti ajaran Dwijendra demi mencapai cita cita Moksatram Jagadita Iyaca Iti Darma adalah sebuah keniscayaan.

“Jika nilai kearifan lokal memiliki potensi terapeutik dalam upaya membangun katakter dan mengubah prilaku maladaptif kawula muda, sudah sewajarnya ia diadopsi ke dalam praktek Bimbingan dan Konseling. Inilah urgensi temuan saya,” tandasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.