Posko Khusus Covid-19 diperlukan di Dermaga Kedonganan

kondisi dermaga watununggul Kedonganan
1,279 Melihat
Bendesa Terapkan SOP Bongkar Muat Ikan

MANGUPURA, POSBALI.co.id – Keberadaan posko khusus Covid-19 di Dermaga Watunungul Desa Adat Kedonganan ternyata menjadi harapan dari Bendesa Adat Kedonganan Wayan Mertha. Hal tersebut dinilai sangat diperlukan, guna mencegah terjadinya kecolongan terhadap arus orang dan barang, yang masuk melalui jalur tikus penyeberangan antar pulau Bali dan Jawa tersebut. “Kami harap agar pemerintah juga mengatensi jalur ini, sebab jalur pelabuhan ini ibarat jalur tikus. Selama ini kami sudah melakukan pengecekan, tapi untuk pengecekan melalui digital infrared thermometer belum ada,”ujar Mertha ditemui Minggu (5/4)

Diakuinya, upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19 sudah dilakukan pihaknya. Salah satunya  dengan menutup aktifitas dermaga watununggul dan melarang sementara kapal dari luar Kedonganan untuk melakukan bongkar muat di Dermaga Watununggul, terkecuali untuk kapal milik masyarakat lokal. Pengecualian aktifitas bongkar muat itu diperuntukan untuk nelayan lokal, bertujuan untuk menjaga stabilitas ketersediaan pasokan ikan di pasar desa, menyangkut kebutuhan masyarakat. “Kalau dulu, itu ada puluhan kapal yang bongkar muat di pelabuhan Kedonganan. Tapi setelah diatur, sekarang hanya 5 yang tersisa, itupun milik masyarakat lokal,”ungkapnya.

Selain itu, proses bongkar muat di Kedonganan juga diatur SOP-nya. Tujuannya adalah demi mencegah adanya kerumunan masyarakat, sesuai anjuran pemerintah terkait physcal distancing dan sosial distancing. Adapun SOP itu adalah mengatur kapal yang membawa ikan agar turun satu-persatu melakukan bongkar muat (mengantri), hasil bongkar muat itu agar langsung dibawa ke cool storage, serta transaksi pedagang dengan konsumen tidak boleh dilakukan di pesisir, melainkan hanya di pasar desa. “Tadi (kemarin) saya bersama Satgas Gotong royong Covid 19 Kedonganan dan Lurah Kedonganan sudah melakukan controling. Sejauh ini SOP telah berjalan dengan baik, jadi kita minimalisir adanya kerumunan dari proses bongkar muat ikan ini,”jelasnya.

Disisi lain, dibatasinya operasional pasar ikan desa adat Kedonganan ternyata masih membuat adanya pedagang ikan liar bermunculan. Dimana ketika pasar ditutup jam 3 sore, para pedagang liar ini bermunculan di pinggir jalan perbatasan dengan Desa Adat Kelan. Karena itulah pihaknya telah menginstuksikan kepada pengelola pasar, agar menertibkan pedagang tersebut. Jika ditemukan penjual ikan itu merupakan pedagang yang berasal dari pasar ikan di Kedonganan, maka kepala pasar akan membatalkan kontrak mereka secara sepihak. “Pedagang di pasar ikan itu ada kontraknya antara kedua belah pihak, baik pengelola maupun pedagang. Jadi ketika pengelola mengetahu adanya temuan itu, ia mengaku akan membatalkan kontraknya itu secara sepihak. Hal itu dilakukan pengelola demi kebaikan bersama,”pungkasnya. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.