Posisi Sekretaris Yayasan Dwijendra Melanggar UU ASN

Chandra Jaya dan Ledang Asmara
Chandra Jaya dan Ledang Asmara
539 Melihat

Chandra : Walikota Mesti Beri Sanksi

DENPASAR, POS BALI — Gejolak di Yayasan Dwijendra sepertinya terus menggelinding bagai bola salju,  menyusul Dr. Made Sumitra Chandra Jaya, Mhum, mantan Ketua Yayasan yang diberhentikan menggugat Kemenkumham yang persidangan sudah digelar tiga kali.

Kini Chandra kembali menyoroti keberadaan Akte No 5 tentang Perubahan Organ Yayasan, dimana, Ketut Widia menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Dwijendra, sementara ia adalah pengawai negeri “Dia itu kan guru matematika, yang merupakan pegawai negeri di  SMP Negeri 3. Pegawai negeri tak boleh merangkap jabatan di yayasan,”kata Chandra Jaya kepada POS BALI, Rabu (19/6).

Menurut Chandra,  berdasarkan UU No 5 Tahun 2014 Tentang ASN, pegawai negeri atau aparatur sipil negara tidak boleh menjadi pengurus yayasan. “Ini termasuk pelanggaran, sehingga pejabat dalam hal ini Walikota Denpasar wajib memberi sanksi kepada yang bersangkutan. Juga bertentangan dengan Anggaran Dasar Yayasan Dwijendra,”tegasnya

Di tempat terpisah, anggota Komite Sekolah, Nyoman Ledang Asmara mengatakan, kasus penyimpangan dana yayasan yang dilakukan oknum pembina yayasan, Satyanegara dan Karlota sudah ada titik terang. “Keduanya sudah ditetapkan tersangka. Kasusnya sudah dilimpahkan polisi ke Kejati pada tanggal 26 Mei 2019. Sebagai kuasa pelapor komite, saya telah menerima surat dari polisi tanggal 14 Juni lalu terkait laporan tersebut,” kata Ledang Asmara sembari meminta wartawan mengkonfirmasi ke Kejaksaan. “Silahkan teman-teman media konfirmasi ke kejaksaan. Apakah ditahan atau tidak,”ucapnya

Selain itu Ledang Asmara juga memberi informasi baru, dalam waktu dekat pihaknya akan membuat laporan baru untuk oknum pembina yang lain yang diduga juga mengambil uang yayasan. “Inisialnya D. Kami segera bikin laporan karena juga mengambil uang yayasan. Kami punya bukti bukti yang lengkap,” kata Ledang Asmara berjanji segera memberika bukti dan kwitansi terima uang dari para pembina ini. “Kalau yang ada kwitansinya kurang lebih Rp860 juta. Sementara yang tak ada kwitansi nilainya seratusan juta,” kata Ledang 003

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.