PKB ke-41, Stand Pameran Gratis dan Efek “Kocokan”

358 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Dalam helatan Pesta Kesenian Bali (PKB) di tahun-tahun sebelumnya, para peserta pameran kuliner harus rela merogoh kocek minimal Rp5 juta satu menyewa stand PKB.

Namun, di era Gubernur Koster, semua stand digratiskan, yang diklaim sebagai pengembalian PKB sebagai pesta rakyat Bali. “Ini bertujuan untuk membuka ruang yang lebih luas bagi kalangan pengrajin. Karena digratiskan, orientasi pameran tahun ini akan lebih ke arah promosi. Material yang digunakan bersifat ramah lingkungan, dan mem-branding Bali. Kualitas produk yang disajikan juga diseleksi, sehingga kerajinan yang disajikan benar-benar produk unggulan, termasuk yang berorientasi ekspor. Terakhir, kita harus secara konsisten nihil dari sampah plastik dan styrofoam,” jelas Koster pada laporannya kepada Presiden Joko Widodo saat pembukaan PKB ke-41, Sabtu (15/6).

Dilanjutkan putra kelahiran Sembiran ini, format PKB ke-41 memang ditata secara inovatif sesuai implementasi kebijakan yang diatur dalam sejumlah pergub yang telah diterbitkan, diantaraya, Pergub Bali Penggunaan Busana Adat Bali, Pergub Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, Pergub Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali pakai, serta Pergub Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian dan Perikanan dan Industri Lokal Bali. 

Imbas dari pemberian stand gratis dirasakan langsung oleh para peserta pameran dan kuliner. Komang Sumiardi salah satunya. Pengrajin songket khas Jembarana ini mengaku berani mematok harga yang relatif lebih murah dibanding pameran-pameran sebelumnya. Meski dijual lebih murah, ia mengaku tetap untung, dengan omzet yang relatif sama dengan tahun sebelumnya.

“Mungkin karena kita diberikan stand gratis, kita bisa pasarkan produk kita dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan tahun lalu. Akibat langsungnya, saya sendiri mengalami peningkatan jumlah penjualan, meski jika dihitung, omzet penjualannya sama dengan tahun lalu,” akunya.

Bak tertimpa durian runtuh, penerapan stand gratis PKB ke-41 juga membuat keuntungan penjaja kuliner PKB berlipat. Bahkan, PKB tahun ini juga memberi peluang bagi pedagang asongan.

“Kita sangat mengapresiasi karena di tahun ini kesempatan nyama-nyamakita untuk mengais rejeki di PKB lebih terbuka lebar. Bukan hanya pedagang kecil seperti kami yang difasilitasi stand gratis, pedagang asongan juga diberikan tempat yang saya pikir sangat membantu mereka,” kata Koodinator Kuliner PKB, Putu Darsana.

Meski mendapatkan stand secara cuma-cuma, ia mengaku tak ada prosedur belat-belit yang menghalau langkahnya bersama teman-teman yang lain memanfaatkan event tahunan tersebut. Di sisi lain, ia juga menilai kunjungan PKB tahun ini lebih menguntungkan. Hal itu tampak jelas ketika pembukaan PKB ke-41, sepekan lalu.

“Kalau dulu, saat pembukaan PKB paling hanya pejabat teras yang hadir, tapi tahun ini benar-benar berbeda. Penonton hadir tumpah ruah, yang artinya turut meramiakan kunjungan ke stand kuliner yang kami tawarkan,” ucapnya sembari mengatakan omzet rata-rata yang berhasil diraup pedagang antara Rp5 juta s.d. Rp10 juta.

Terkait dengan harga, ia mengatakan tidak ada peningkatan harga dari kuliner yang dijajakan. Para pedagang PKB telah membuat kesepakatan harga sesuai dengan yang ditulis dalam daftar menu. “Saya menyatakan tidak benar ada pungutan sebagaimana pemberitaan kemarin,” kilahnya.

Penerapan stand gratis berdampak pada penempatan stand secara acak. Akibatnya, ada peserta yang merasa “nyasar” lantaran tidak mendapat tempat yang tepat. Hal ini dialami stand kerajinan wayang kulit asal Batuan, Sukawati. Mereka merasa “tersesat” lantaran ditempatkan di kawasan busana. 

“Kami mendaftarkan produk sebagai kerajinan kulit, sehingga mendapat tempat di antara pengrajin sandal kulit. Akibatnya, pengunjung yang mampir turun drastis, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Untung saja stand tidak bayar,” kata penjaga stand, Komang Artika. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.