PKB Ke-41 Mendobrak Kesan Monoton? Pertajam Proses Kurasi

384 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Meski demikian, untuk meningkatkan kualitas PKB ke depan, sejumlah evaluasi patut dilakukan Pemprov Bali ke depan. Hal itu pun ditegaskan Gubernur Koster sebagaimana dinyatakan seusai menyaksikan pementasan Tari Makepung karya Sanggar Suar Agung Jembrana, Minggu (7/7).

“Penyelenggaraan PKB hari ini merupakan yang pertama di era kepemimpinan saya bersama pasangan Wabup Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, mohon dikritisi, yang baik katakana baik, yang kurang katakana kurang, agar pelaksanaan pKB tahun depan kita bisa tingkatkan lagi kualitasnya,” katanya.

Terkait evaluasi PKB ke-41, budayawan, Prof. I Made Bandem, secara umum memandang gelaran tersebut masih menjungjung tinggi kualitas tampilan. Meski demikian, ia menilai masih ada garapan tak sesuai tema, bahkan terkesan “salah kamar”. Kondisi itu, utamanya banyak diamati pada garapan-garapan yang berasal dari daerah lain dan negara-negara sahabat.

“Ke depan supaya seni-seni lebih mengacu pada tema. Tidak hanya seni pagelaran harus sesuai tema, tapi juga pameran seni rupa, seni kerajinan, perlu mengacu ke tema. Oleh karena itu perlu ada perlombaan-perlombaan lagi,” katanya.

Melalui lomba, pihaknya berharap bisa melihat proses penafsiran tema oleh peserta. Penafsiran tema yang tepat juga akan mematahkan penilaian monoton yang selama ini sering dituduhkan sejumlah masyarakat. “Pelaksanaan masih ada yang tidak (sesuai tema), ada yang masih setengah-setangah. Kalau yang disajikan dari kabupaten memang sudah sesuai tema, tapi yang di luar daerah dan luar negeri masih banyak belum sesuai tema. Terutama seni rupa dan kerajinan, agar kesannya tidak hanya datang berdgaang, harus ada inovasi dan kreativitas. Kurasi harus lebih baik,” harap Bandem.

Penulis buku “Bali yang Berubah”, I Ngurah Suryawan, turut mengamati hal serupa. Penulis produktif yang juga menaruh perhatian mendalam pada dunia seni, khususnya seni rupa ini menilai proses kurasi terhadap objek-objek yang akan disajikan di PKB hendaknya dilakukan secara lebih berkualitas. Bahkan, ia menyarankan ke depannya PKB tidak digarap oleh pemerintah, namun digarap institusi khusus.

“Saya masih melihat PKB sebagai ‘proyek’ pemerintah.  Kalau mau lebih maju, PKB hars dikelola lembaga khusus,  bukan birokrat. Harus ada lambaga atau yayasan yang berintegritas dan kompeten terlibat, dengan sistem kurasi yang berkualitas,” katanya.

Menurutnya, PKB telah berkembang bukan saja  menjadi milik Bali, tetapi menjadi jendela Indonesia dari pandangan dunia. “Harus juga dipikirkan secara matang soal pemilahan seni tradisi yang berakar dari sebunan dengan seni kontemporer Bali. Makanya harus ada tim kurator, tim konseptor, dan pelaksana yang menawarkan ide setiap tahun PKB akan seperti apa. Tentu ini harus mendapatkan masukan dari publik dan sudah pasti kontekstual,” pungkasnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.