Petani di Kawasan Danau Batur Diajari Buat Pupuk Bangkai Ikan

Dinas PKP Bangli mengedukasi petani untuk bisa mengolah bangkai ikan menjadi pupuk.
263 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Dampak fenomena semburan belerang di Danau Batur, sampai dengan Minggu (1/8) ikan yang mati mencapai 26 ton. Saking banyaknya, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan perikanan (PKP) Bangli kewalahan untuk membersihkan atau mencari lokasi penampungan.

Sebagai opsi alternatif, Dinas PKP mengedukasi petani untuk bisa mengolah bangkai ikan menjadi pupuk. Minggu (1/8), Dinas PKP mengajarkan warga Desa Kedisan praktik membuat pupuk tersebut.

Kadis PKP Bangli, I Wayan Sarma, berkata hampir setiap hari penyuluh perikanan dan penyuluh pertanian memberi edukasi serta praktik pembuatan pupuk dari bangkai ikan. “Karena kewalahan lokasi penampungan, kami tidak lagi mengirim bangkai ikan ke luar seperti sebelumnya. Kini melakukan penanganan di tempat lahan pertanian di sekitar Danau Batur,” ujarnya.

Dia menguraikan, sebelumnya sudah diangkut hampir 26 ton bangkai ikan dan dibawa ke kebun petani di Pengotan yang kini penuh. Karena terkendala lahan pembuangan, dia berujar memberi sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar dikubur di kebun di sekitar danau. Petugas PPL sempat turun untuk mencoba cara dekomposer agar mempercepat proses dekomposisi dan mengurangi bau.

Membuat pupuk dari bangkai ikan, jelasnya, tidak terlalu sulit. Bangkai ikan yang dievakuasi dari danau dicampur dengan molase, decomposer dan dedak, kemudian diaduk hingga campuran merata. Selanjutnya dituang dalam lubang, ditaburi dengan dedak, lantas ditimbun. “Kami harap dengan pembuatan pupuk ini petani bisa melakukan penanganan bangkai ikan secara mandiri,” ungkapnya.

Mengenai semburan belerang, Sarma menyebut kali ini termasuk semburan terbesar dan lama, karena biasanya hanya 4-6 hari selesai. Dampaknya hanya di Kedisan dan Buahan, tapi sekarang terjadi dua tahap.

Setelah tahap satu di Seked, Kedisan, dan Buahan sejak tanggal 14-19 Juli lalu, tahap dua muncul di Songan sejak 23-26 Juli yang berdampak juga sampai ke Desa Terunyan. Sampai kini pun dia menduga semburan masih terjadi, karena warna air masih hijau keputihan dan masih tercium bau belerang.

Berhubung semburan masih terjadi, dia menyebut matinya ikan juga akan terus terjadi. “Kami harap penanganan bangkai ikan secara mandiri oleh petani bisa menekan pencemaran di danau oleh bangkai ikan yang membusuk. Ikan-ikan yang mati bukan saja ikan peliharaan masyarakat di KJA, tapi juga ikan di luar keramba ikan liar,” pungkasnya. 028

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.