Pesan Solah Tutur Taru Pramana, Jangan Jumawa Setelah Jadi Hebat

Persembahan apik Solah Tutur “Taru Pramana” dalam pembukaan Bulan Bahasa Bali di Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar.
651 Melihat

Dari Pembukaan Bulan Bahasa Bali

DENPASAR, posbali.co.id – Dikisahkan seorang raja bernama Prabu Kuturan yang berprofesi sebagai balian (penyembuh) yang sangat sakti, dan mampu mengobati orang sakit. Tiba-tiba, Prabu itu mengalami semacam titik nadir, kegagalan. Jangankan pasien itu sehat, namun hidup pun tidak. Semua yang diobati itu meninggal.

Pada suatu ketika ada putri raja yang mengalami sakit keras. Sang raja memohon pada Prabu Mpu Kuturan untuk menyembuhkan putrinya. Prabu Mpu Kuturan ini menyesali nasibnya, semacam nyiksik bulu. Atas baktinya kepada Sang Raja, ia kemudian meminta waktu untuk bersemedi terlebih dahulu sebelum mengobati sang putri.

Ia kemudian bersemedi di Setra Ganda Mayu selama satu bulan tujuh hari dengan berbagai cobaan maka datanglah Dewi Durga. Ketika Prabu Kuturan bertanya tentang nasibnya, Dewi Durga mengatakan karena ia mulai sombong, sudah mulai “nyapa kadi aku” mengaku sudah hebat. Dengan mau bertobat, Dewi Durga kemudian menurunkan anugerah sebuah lontar Aji Taru Pramana.

Dengan anugerah itu, Prabu Mpu Kuturan akhirnya bisa berkomunikasi dengan semua tumbuh- tumbuhan. Ia kemudian masuk ke tengah hutan menanyakan setiap tanaman tentang fungsinya, mulai dari akar, kulit, batang, daun, bunga, pucuk dan sebagainya. Dengan pengetahuan itulah, mulai kesediaannya (kesaktiannya mengobati) muncul kembali, sehingga bisa mengobati Putri Raja yang terbaring karena sakit itu.

Alur cerita bertajuk Solah Tutur “Taru Pramana” ini, disajikan dalam pembukaan Bulan Bahasa Bali tahun 2021, di Gedung Ksiarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin (1/2/2021) petang. Pementasan garapan tanpa penonton dan disiarkan secara live streaming YouTube itu, dipersembahkan Fakultas Seni Pertunjukan berkolaborasi dengan Sanggar Bungan Dedari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan melibatkan sebanyak 51 penari dan 23 penabuh.

Garapan seni ini dibuat dalam format baru, yang tidak berorientasi pada sendratari murni ataupun oratorium yang biasa disajikan sebelumnya. Garapan ini menyajikan sebuah pola pikir untuk mengkreasikan berbagai dimensi dan berbagai elemen, baik itu sastra, teater, tari, musik dan juga pemanfaatan media digital, seperti layar LED dengan penyediaan video drone dan lainnya. Bentuknya, dalam format sangat baru yang disebut sebagai solah tutur. Para penari tak hanya menonjolkan tari saja, tetapi ada juga yang berdialog langsung, ada pula didukung dalang yang harus diisi pada adegan bertentu, ada yang harus menyanyi, mekidung dan bermain music, sehingga ada berbagai elemen di dalamnya.

Selaku penanggungjawab, Dr. I Komang Sudirga, SSn., M.Hum., didampingi Ketua Panitia, I Gede Mawan, SSn.,M.Si mengatakan, garapan ini memang dibuat dalam format baru. Jika sebelumnya ada musikalisasi puisi, oratorium, maka kali ini membuat dalam bentuk solah tutur yang diharapkan menjadi model ke depan. Garapan berdurasi sekitar 1 jam itu, mengangkat kisah yang bersumber dari Lontar Taru Pramana. Hal ini sengaja diangkat karena mengacu pada tema Bulan Bahasa Bali yakni “Wana Kerthi Sabdaning Taru Mahottama”.

Menurut Komang Sudirga ada makna yang ingin disampaikan dalam garapan ini. Salah satunya jangan “jumawa” (sombong) setelah merasa hebat. Karena sebagai manusia semestinya selalu bersahabat dengan alam. Karena itu, garapan ini ingin menyampaikan bahwa, manusia hidup mesti selalu saling menyayangi dengan alam sebagai implementasi konsep Tri Hita Karana.

“Secara vertikal, anugerah Tuhan melalui tumbuh-tumbuhan dan hewan, manusia harus bisa bersahabat dengan mereka. Manusia tak bisa hidup tanpa adanya tumbuhan dan binatang. Oleh karena itu mari pelihara alam ini,” ajaknya.

Itulah alasan, kenapa garapan ini juga diisi dengan prosesi upacara tumpek uduh sebagai simbolisasi kasih sayang terhadap alam melalui barong kedengkling. “Di sana ada tokoh Subali, Sugriwa, dan Hanoman merupakan simbol dari kama petak dan kama bang sebagai perwujudan munculnya makhluk hidup. Itu untuk mengharmonisasikan alam. Ketika tumbuhan itu diupacarai dengan sasat dan ada barong kedingkling,” terangnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.