Pesan Pluralitas dari Balik Bukit

370 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Angin pantai begitu kencang berhembus ketika POS BALI dan rombongan DPK Peradah Indonesia Bangli sampai di Dusun Bukit Sari, Desa Songan B, Kintamani, Bangli, Sabtu (13/7) siang. Di kawasan yang terletak di balik Bukit Kintamani itu, meski angin tampak garang, ada pesan-pesan pluralitas yang telah lama teranyam.

Pesan plural itu tersiar dari sebuah gereja Kristen yang anggun berdiri menghadap puncak bukit yang agung di sebelah barat. Gereja itu telah berdiri sejak 1996, didirikan sejumlah keluarga asli Desa Songan penganut Kristen, yang dikomandoi I Gede Abraham. Selama 23 tahun kokoh berdiri, gereja ini sempat didukung 14 kepala keluarga (KK) dan kini tersisa 8 KK.

Ketika POS BALI sampai di lokasi, tak ada aktivitas keagamaan dilakukan di gereja yang gerbangnya dihias gapura khas Bali itu. Hanya ada tiga orang anak dan seorang remaja yang berseliweran di halaman gereja, memanfaatkan angin kencang untuk memainkan layang-layang. Sedangkan, pintu masuk ke dalam gedung gereja tertutup rapat.

Penampakan gereja cukup sederhana. Bangunan utama ditopang dua pilar kokoh di bagian depan dengan dinding batu alam berwarna merah dan hitam asli daerah tersebut. Atapnya dibalut atap seng perak, dengan sebuah salib besar berdiri mengkilap diterpa cahaya matahari. 

Dari seorang warga yang tinggal tepat di bawah gereja, kami mendapat informasi keberadaan pengurus gereja, I Gede Abraham. Kami disarankan langsung menuju rumahnya yang berjarak sekitar 500 meter menuruni jalan kecil curam yang baru mendapat sentuhan hotmix tahun 2018 lalu.

Awalnya, rombongan berniat melakukan audiensi ke Kepala Dusun (Kadus) Bukit Sari, I Jero Gede Simpen, sekaligus survei keluarga sasaran untuk gerakan Peradah Ngejot yang dijadwalkan digelar Sabtu (20/7) mendatang. Namun, berhubung kedua tokoh itu sedang berada di acara pernikahan yang sama, kami disarankan oleh kadus untuk menunggu di rumah tokoh Kristen yang akrab dipanggil Braham itu. Sebab, akan memakan waktu lebih lama jika pertemuan dilakukan di rumah kadus yang jaraknya cukup jauh dari tempat itu.

Sekitar 30 menit menunggu di rumah tokoh yang berperan sentral dalam pembangunan gereja itu, sosok paruh baya berpakaian adat madya lengkap datang berwahana sepeda motor. Dialah I Gede Abraham yang dengan senyum sumringah menyodorkan tangan di awal pertemuan dengan kami.

Di sebuah gazebo di rumah miliknya, Braham lantas menuturkan kisahnya sampai menjadi penganut Kristen sekitar seperempat abad silam, serta kisah perjalanannya membangun rumah ibadah yang anggun itu. Terkait pengalaman spiritualnya, pria kelahiran 1961 ini awalnya adalah Hindu Bali tulen, bahkan pernah ngayah menjadi pemangku di Pura Penataran Desa Adat Songan selama tujuh tahun bernama Mangku Printis.

“Awalnya memang dari saya (keberadaan penganut Kristen di Dusun Bukit Sari, red), (antara) tahun 1994-1993 saya berkawan bertanya, saya pernah ke Muslim tiga bulan, tapi tak cocok, mundur. Nah, ketemu teman di Desa Katung, Kintamani, tiga hari bekerja di sana, saya tanyakan bapak agama apa? Kemudian, dibilang Kristen,” tuturnya mengawali perbincangan.

Ketika menjadi pemangku, tutur Braham, ia begitu gundah mencari kesejatian dirinya, bagaimana sejarah penciptaan alam semesta beserta isinya. Lama mencari, sampan pencarian itu berlabuh di ajaran Kristen yang memantapkan dirinya menjadi pemeluk Kristen.

“Ketika bertemu teman di Katung, saya minta pinjam buku-buku tentang penciptaan semesta dan isinya. Saya bilang, kalau ada (buku) saya pinjam. Kalau ada saya pinjam yang (menggunakan tulisan) tastra (sastra) Bali. Sudah diberikan tastra Bali lagi saya minta huruf tastra latin bahasa Bali kalau ada,” katanya mengenang masa-masa 25 tahun silam.

Secara rutin dan berkelanjutan, Braham mempelajari buku-buku yang diberikan. Ia semakin tertarik hingga “merapat” ke tokoh-tokoh Kristen di Bangli. Beberapa kali ia juga mengundang tokoh-tokoh itu datang ke rumahnya.

Faktor lain yang memantapkan pilihannya adalah kondisi keluarganya. Ketika itu, ia telah memiliki lima orang anak, namun semuanya perempuan. Atas dasar itulah ia dikucilkan oleh keluarganya, hingga tak menerima warisan. Untuk menghidupi diri, ia memilih merantau ke luar desa, bahkan sempat berencana ikut program transmigrasi. Desa Batur, Kintamani, dan Katung adalah sebagian desa yang pernah didiaminya menggantungkan hidup, hingga di desa terakhir ia akhirnya juga menemukan jawaban atas pencarian jalan menuju Tuhan Yang Esa.

Kebahagiaan dan kepercayaannya atas ajaran Kristen semakin mantap tatkala seorang tokoh agama memberinya solusi memperoleh keturunan laki-laki. “Tahun 1995 saya diundang ke Denpasar. Setelah saya di Denpasar, saya diambilkan (gambar) bayi no problem. Diberikan tips agar memiliki anak laki-laki. Di dalam hati saya sebenarnya tertawa, namun akhirnya saya lakoni dan berhasil, hingga sejak itu tiga anak laki-laki lahir dari istri saya,” tuturnya.

Hanya Berbeda Jalan

Meski menganut Kristen, Braham tak serta merta meninggalkan jiwanya sebagai manusia Bali. Ajaran agama yang dianut hanya jalan dan urusan pribadi pada Tuhan Yang Mahaesa, namun sebagai manusia ia tetaplah orang Songan, yang memiliki hak kewajiban bermasyarakat.

Alasan itu pula yang juga diakui menggugurkan pilihannya sebagai Muslim. Sebab, hidup di komunitas yang mayoritas Hindu, ia sering bersentuhan dengan babi, yang sangat diharamkan oleh pemeluk Islam.

“Teman-teman di budaya kita (Hindu Bali, red) kan sering motong babi. Sering (upacara) telu bulanan, maotonan, dan kalau datang, tapi tidak bisa membantu, kan rugi. Artinya, keakrabannya kurang. Kalau di Kristen dia bebas, tidak ada halangan apa. Makan daging babi, makan apapun itu penting bersama-sama, tidak mengurangi keakraban kita di masyarakat,” akunya.

Hingga saat ini, akunya, ia tetap aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial maupun adat di desanya. Ia selalu aktif ketika ada tetangga yang memiliki hajatan nikah, manusa yadnya, juga dewa yadnya. Bahkan, ia masih aktif berdana punia di desa adat.

Hal senada juga direspon sama oleh masyarakat sekitarnya. Ketika ia punya hajatan tertentu, termasuk ketika Hari Natal masyarakat Hindu di sekitarnya juga dengan senang hati membantu.

“Kalau Natal mereka pasti datang juga membantu. Kalau di gereja, kami biasa juga hias gereja dengan penjor seperti saat Hari Galungan. Jadi, keakraban itu kalau ke masyarakat saya tidak pernah mengurangi. Kalau bisa kepada Tuhan itu supaya lebih akrab kepada masyarakat. Sama-sama membangun wilayah kami,” ujarnya.

Kolaborasi pemeluk Hindu dan Kristen di sana juga tampak ketika pembangunan gereja dilakukan. Waktu itu, sebagian besar pekerja diakui adalah pemeluk Hindu. “Pekerjanya ya masyarakat di sini, ada yang bekerja tiga hari, ada sampai empat hari. Tidak ada hambatan saat membangun itu,” imbuhnya.

Sejak awal berdiri, gereja itu pernah didukung 14 KK. Namun seiring jalannya waktu, 10 KK lainnya memilih kembali menjadi pemeluk Hindu. Sisa 4 KK inilah yang kini berkembang menjadi 8 KK. “Sekarang ada 8 KK, 6 KK tinggal di sini, 2 KK tinggal di Denpasar,” ucapnya.

Keharmonisan dua  pemeluk agama itu diakui Kadus Bukit Sari, I Jero Gede Simpan. “Hubungan masyarakat beda agama yang ada di dusun kami adalah salah satu keragaman yang patut dihormati. Semasih tak merugikan siapa-siapa, saya pikir sah-sah saja, dan hendaknya kita saling menjaga. Selama ini kami selalu harmonis, mudah-mudahan tetap seperti ini,” jelasnya. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.