Pesan Etis “Tangisan Ibu Pertiwi” Karya I Made Karyana

948 Melihat


 
GIANYAR, posbali.co.id – Pameran seni rupa “Ibu Rupa Batuan” yang digelar di Bentara Budaya Bali hingga 18 September mendatang menyuguhkan berbagai sajian estetis sekaligus sarat makna. Di bidang seni lukis, para perupa merespon tema dengan berbagai sajian visual dengan ciri khas lukisan Batuan yang berkarakter padat.


Kilas balik perupa Batuan mengeksplorasi kisah mitologi dan mistis sebagaimana dinyatakan Kadis Kebudayaan Bali, Dr. Wayan ‘Kun’ Adnyana dalam pembukaan pameran tersaji jelas dalam sejumlah karya. Sebut saja karya berjudul “Sang Hyang Jagat Karana” goresan Dewa Ketut Tilem yang dipajang di sisi selatan ruang pameran. Lukisan kanvas berdimensi 90×70 cm ini menampilkan wujud Hyang Jagat Karana (Siwa) sebagai wujud semesta raya, “merumahkan” berbagai isi semesta.


Namun, salah satu lukisan yang menyajikan tema yang cukup eksplisit mengumbar kondisi kekinian adalah buah karya I Made Karyana. Lukisan yang diberi judul “Tangisan Ibu Pertiwi” tampak berupaya begitu tegas menggambarkan eksploitasi manusia terhadap hutan. Ide ini sejalan dengan kondisi ekologi Bali -juga Indonesia dan dunia- yang tengah berhadapan pada pembabatan hutan secara masif.

Guna mendapatkan ide dasar yang ingin disampaikan perupa dalam karya berdimensi 120×80 cm ini, POS BALI berupaya menghubungi Karyana. Kepada POS BALI, Selasa (10/9), ia pun membeberkan pesan yang ingin diungkapkan.

“Lukisn itu memang menceritan kejadian yang kemungkinan akan timbul akibat pembabatan hutan, baik itu ilegalloging maupun perluasan lahan, akibatnya akan berdampak terhadap ekosistem seperti binatang yang tempatnya semakin menyempit, dan bisa juga terjadi banjir,” terangnya.

Seperti visi lukisan pada umumnya, ia ingin menjadikan lukisan yang digarap selama dua bulan di tahun 2019 itu sebagai wahana kritik sosial. Terlebih, saat ini Pemprov Bali sedang giat-giatnya menggaungkan konsep Sad Kerthi, yang di dalamnya terdapat Wana Kerthi (pemuliaan terhadap hutan).”Saya harapkan dapat menggugah rasa, bagaimana cara kita semua menjaga kelestarian alam itu sendiri,” katanya.

Diakuinya, proses kreatif lukisan tersebut juga terlahir dari campuran “citarasa” tradisi dan modern. Menggaet pakem modern, aksen-aksen daun kering digarap langsung dengan warna, selain itu juga diisi dengan bayangan daun. “(Gambaran daun) saya buat kesan tiga dimensi dan belakangnya pakai pakem tradisi Batuan,” imbuhnya.

Sebelumnya karya ini turut mendapatkan perhatian tersendiri dari kurator pameran, Wayan Jengki Sunarta. Dalam risalah singkatnya ia menyatakan “Tangisan Ibu Pertiwi” sebagai karya yang berangkat dari keprihatinan pelukisnya pada kerusakan dan kehancuran alam akibat ulah manusia yang durhaka pada bumi pertiwi.

“Lukisan Karyana mengandung kepedulian terhadap persoalan ekologi. Bumi sebagai ibu pertiwi mesti dijaga dan dirawat demi keberkangsungan kehidupan. Persoalan penebangan hutan atau pembakaran hutan adalah salah satu persoalan di antara banyak persoalan ekologi yang harus disikapi dan dikritisi. Dan, Karyana mengritisinya lewat seni lukis gaya Batuan,” kata penyair kawakan Bali ini. 015

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.