Persiapan “Ngusaba Kelima” di Pura Kehen, Kapolres Imbau Prokes Diperketat

Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan; menghadiri paruman upacara Karya Ngusaba Kelima Isaca Warsa 1943 di Pura Kehen, Jumat (24/9/2021).
99 Melihat

BANGLI, posbali.co.id – Demi aman dan suksesnya pelaksanaan upacara Karya Ngusaba Kelima Isaca Warsa 1943  di Pura Kehen,  Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan; menghadiri paruman yang dipimpin Ketua Panitia, Sang Made Suryawan, dan dihadiri Jro Gede Kehen, Putu Gede Astawa; Pasi Ops Kodim Bangli, Kapten Inf. I Made Yuda Kencana, dan tokoh masyarakat Lingkungan Kelurahan Cempaga, Jumat (24/9/2021).

Sang Made Suryawan menyampaikan dudonan karya, fasilitas prokes maupun lokasi parkir di sekitar areal Pura Kehen. Kepada semua panitia, dia minta agar dilakukan pemeriksaan kesehatan berupa tes antigen yang akan dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober nanti.

Kapolres Dhana Aryawan dalam kesempatan itu menyampaikan optimis Karya Ngusaba Kelima akan berjalan dengan aman dan lancar. Dia tetap mengingatkan agar tetap memperhatikan protokol kesehatan. Polres Bangli dan Kodim 1626 Bangli akan mendukung pelaksanaan rangkaian kegiatan Karya Ngusaba Kelima. Kondisi saat ini di Bali semuanya sudah diturunkan menjadi Level 3, tapi Kabupaten Bangli masih zona oranye. ‘’Ini artinya harus lebih berhati-hati,’’ ucapnya.

Lanjut disampaikan, upacara Ngusaba Kelima menjadi tanggung jawab bersama. Tinggal teknis pelaksanaannya  agar berjalan aman dan lancar. Sesuai surat edaran dari  MDA dan PHDI Bali, setiap upacara / karya perlu dilakukan tes antigen. Dia menyilakan diatur pelaksanaannya, menjaga tidak ada kerumunan dan tetap memakai masker.

Pengaturan kerumunan, jelasnya, sudah dibagi jam per jam pada saat kegiatan. Polres Bangli bahwa dalam pelaksanaan puncak karya, untuk kawasan Pura Kehen dibagi menjadi 4 zona. Zona 4 di luar areal Pura Kehen ditugaskan Satuan Lalu lintas dan Dishub. Zona 3 di areal parkir Pura Kehen ditugaskan kepada semua pecalang. Zona 2 di areal Madya Pura Kehen diserahkan kepada panitia dan pecalang. Zona 1 di areal utama Mandala diserahkan kepada semua panitia, dan pecalang serta prajuru adat agar mengatur keluar masuknya setiap warga yang sembahyang.

Apabila di zona 1 sudah berakhir, urainya, baru zona berikutnya dibuka agar tidak terjadi kerumunan.  Untuk  zona 2 yang akan masuk ke zona 1 harus dilakukan secara ketat, dan diwajibkan  atau memakai masker kepada semua pemedek. Tidak ada penambahan pedagang yang dari luar daerah, dan hanya memaksimalkan pedagang yang sudah ada di lingkungan areal Pura Kehen.

‘’Agar tetap diimbau kepada warga yang kurang sehat, serta anak kecil di bawah 12 tahun, untuk tidak diperkenankan melaksanakan persembahyangan. Sesuai kesepakatan bersama, dalam upacara mepeed tidak mempergunakan gong. Yang diperbolehkan menggunakan gong yaitu di areal Pura Kehen pada saat upacara berlangsung,’’ pungkasnya. 028

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.