Percepat Pembentukan Koperasi Padi, Dinas Koperasi dan UKM Bali ‘Turun Gunung’

Foto: Kadis Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Wayan Mardiana saat meninjau koperasi tani di Jembrana
313 Melihat

JEMBRANA, posbali.co.id – Pertanian menjadi sektor yang paling mampu bertahan di segala situasi dan kondisi. Seperti sektor pertanian padi. Namun sayang, saat panen raya komoditi salah satu bahan pokok ini anjlok. Petani pun merugi.

Menyikapi persoalan itu, Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Bali ‘turun gunung’ ke Jembrana meninaju permasalahan yang dihadapi petani, Selasa (25/5).

Berkoordinasi dengan Dinas Pertanian serta Dinas Koperasi dan UKM, Kadis Koperasi dan UKM Provinsi Bali, I Wayan Mardiana turun ke lapangan memantau langsung kendala yang dihadapi petani di Bumi Makepung ini, khususnya dihilir.

“Sesuai dengan arahan bapak gubernur, kami turun ke lapangan untuk mempercepat pembentukan koperasi padi di kabupaten/kota se-Bali, sehingga hasil pertanian padi tidak begitu anjlok di saat panen raya. Karena telah terserap di koperasi. Apalagi Jembrana ini telah menjadi sentra penghasil gabah. Dengan terbentuknya koperasi padi, maka diharapkan gabah yang dihasilkan petani mampu terserap, sehingga gabah tidak dijual ke luar provinsi,” ungkapnya, Rabu (25/5).

Mardiana menuturkan, dari informasi Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana, luas tanam untuk lahan sawah di Jembrana seluas 14.539,9 ha dan luas panen 11.075,3 ha. Produksi gabah kering panen 76.876,7 ton setara dengan produksi beras 41.610 ton.

“Kebutuhan beras di Kabupaten Jembrana 31.860 ton. Jumlah penduduk 328.414 jiwa dengan tingkat konsumsi beras susenas 105,3 gram per kapita per hari, sehingga Kabupaten Jembrana surplus beras sebanyak 9.750 ton,” ujarnya.

Mardiana menyebutkan, jumlah penggilingan padi di Jembrana tahun 2021 sebanyak 15 Rice Miling Unit (RMU). Namun dari jumlah tersebut, tiga 3 RMU sudah tidak beroperasi.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana telah memperoleh bantuan penggilingan padi lengkap dengan pengering gabah dari Kementerian Pertanian sebanyak dua unit. Yaitu satu unit lokasinya di Subak Tibu Beleng Desa Penyaringan, Mendoyo, sedangkan satu unit lagi di Kelompok Tani Sari Mulya Desa Sangkaragung. Bantuan sarana ini masing-masing berkapasitas 10 ton sekali proses,” bebernya.

Dia menambahkan, alat penggilingan yang dialokasikan di Subak Tibu Beneng telah dikelola dengan sistem pengembangan komoditi unggulan beras berbasis korporasi di Kelompok Tani Sri Amerta Jati dengan luas lahan sawah seluas 1.099 Ha dengan jumlah petani sebanyak 1.921 petani.

“Untuk korporasi di subak tersebut sudah terbentuk Koperasi Tani Sri Ananta Buwana berdiri tahun 2008. Kegiatan koperasi hanya menyediakan saprodi untuk petani dan tidak melakukan aktivitas membeli gabah petani untuk diproses menjadi beras dengan alasan tidak mempunyai dana untuk membeli gabah petani,” ungkapnya.

Mardiana membeberkan, Pemda Jembrana sujatinya telah mengalokasikan anggaran untuk membeli gabah petani sebesar Rp5 miliar. Namuan dengan anggaran tersebut, hanya mampu untuk membeli gabah petani sebesar 3% dari total produksi gabah kering panen.

“Permasalahan yang dihadapi KUD dan pengusaha penggilingan padi di Jembrana tidak adanya dana yang cukup untuk membeli gabah petani disaat panen raya, sehingga kemampuan untuk menyerap gabah petani terbatas,” jelasnya.

Pihaknya menilai, jika ditinjau dari jumlah penggilingan padi yang sudah ada di kabupaten Bali Barat ini, memang telah cukup. Hanya saja, lanjut dia, perlu dibantu dana penguatan modal bagi KUD dan Koperasi untuk mampu membeli gabah petani saat panen.

“Permasalahan ini telah saya laporkan kepada bapak gubernur. KUD berharap ada skema pinjaman pemerintah dengan bunga lunak, sehingga dengan demikian gabah ditingkat petani dapat terserap,” tandasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.