Penglukatan Agung Banyu Pinaruh Dipuput Sembilan Sulinggih

Ribuan umat Hindu mengikuti upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh di Pantai Mertasari, Sanur, Kota Denpasar, Minggu (8/12).
Ribuan umat Hindu mengikuti upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh di Pantai Mertasari, Sanur, Kota Denpasar, Minggu (8/12).
686 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Wilayah (Korwil) Bali menyelenggarakan upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh di Pantai Mertasari, Sanur, Kota Denpasar. Ritual ini dilakukan pada Redite Paing Wuku Sinta, Minggu (8/12), sehari setelah hari raya Saraswati. Pelaksanaan upacara ini dipuput sembilan sulinggih.

Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta selaku Ketua Panitia dalam pelaksanaan upacara ini, mengatakan, selama ini masih ada kekeliruan di masyarakat dalam merayakan Banyu Pinaruh. Banyak umat yang justru datang ke mata sumber air seperti pantai hanya mandi biasa, setelah itu pulang. Padahal seharusnya mendapat tirta penglukatan dari sang sulinggih. “Karena salah kaprah inilah, kami dari Pinandita Sanggraha Nusantara Korwil Bali menyelenggarakan kegiatan ini,” ucapnya.

Pinandita Dodi menjelaskan, Banyu Pinaruh berasal dari kata “banyu” yang artinya air atau kehidupan dan “pinaruh” artinya pengetahuan. Ketika hari Banyu Pinaruh adalah saatnya mendapatkan tirta penglukatan dari sang wiku untuk menghilangkan dasa mala sehingga tercapainya keseimbangan antara fisik, mental, dan moralitas.

Prosesi upacara ini dilakukan diawali dengan nunas tirta pura di lingkungan Mertasari. Dilanjutkan pada saat tengah malam melaksanakan prosesi mulang piranti untuk mendapatkan toya utawi tirta nirmala di tengah laut. Piranti ini berupa lima botol yang ditutup rapat dengan gabus (akar pohon bakau). Setelah dibenamkan ke laut semalaman ketika diambil akan didapat tirta di tengah botol tersebut meskipun ditutup rapat. Tirta ini disebut tirta nirmala yang didapat dari saripati air laut.

Pinandita Dodi menyampaikan, sulinggih yang muput dalam upacara ini terdiri dari sembilan sulinggih sarwa wangsa. Setiap sulinggih membuat tirta penglukatan yang berbeda. Adapun abhiseka sulinggih yang muput serta jenis penglukatannya sebagai berikut: Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Satya Jyoti (ngarga tirta Gangga), Ida Sri Mpu Dharma Sunu (ngarga tirta Siwa Baruna), Ida Pedanda Gede Kompyang Beji (ngarga tirta Baruna Gni), Ida Pandita Mpu Upadyaya Nanda Tanaya (ngarga tirta Setra Gemana), Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Wirya Arda Nara Swara (ngarga tirta Wisnu Panjara), Ida Pandita Mpu Jaya Ananda Yoga (ngarga tirta Siwa Gni), Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma (ngarga tirta Sanjiwani dan tirta Budha), Ida Sri Mpu Dharma Agni Yoga Sogata (ngarga tirta Wana Gemana), dan Ida Pandita Mpu Dwidaksa Dharma Manik Kusuma (ngarga tirta Marga Gemana).

Adapun banten yang munggah dengan ayaban bebangkit, pulagembal menggunakan surya sesayut ardanareswari dan banten dewa dewi. Sor surya menggunakan gelar sanga. Pakelem yang digunakan bebek, dengan caru panca sata. Serta menggunakan pengreresikan jangkep ditambah lis bale gading dan padudusan. “Dalam pengerjaan banten para pinandita PSN Korwil Bali bergotong royong mengerjakannya. Meskipun sebenarnya hampir tidak ada dana, kami semua dengan berpatungan mengerjakannya dengan niat supaya tradisi ini dapat berjalan,” kata Pinandita Dodi.

Ia menambahkan, pelaksanaan upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh ini adalah pelaksanaan yang ketiga. Upacara ini dilaksanakan serentak di seluruh 9 kabupaten/kota se-Bali, yang dilaksanakan oleh PSN Korda se-Bali, pusatnya di Pantai Mertasari, Sanur. “Ke depan kami harapkan pelaksanaan upacara seperti ini bisa dilaksanakan di setiap mata air di Bali. India terkenal dengan Kumbamela, kita pun mempunyai tradisi yang sangat unik yaitu Penglukatan Agung Banyu Pinaruh ini,” tutupnya. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.