Pemkab Badung Pertimbangkan Buka Pantai Secara Selektif

TIGA orang warga negara asing, Minggu (17/5) lalu kembali kedapatan plesiran ke Pantai Balangan, Jimbaran oleh petugas Satpol PP BKO Kutsel. Mereka ternyata wisatawan yang tinggal di wilayah Seminyak, Kuta. Foto: ist
506 Melihat

MANGUPURA, posbali.co.id – Tiga orang warga negara asing, Minggu (17/5) lalu kembali kedapatan plesiran ke Pantai Balangan, Jimbaran oleh petugas Satpol PP BKO Kutsel. Mereka ternyata wisatawan yang tinggal di wilayah Seminyak, Kuta. Mereka mengaku nekat masuk ke pantai dari “jalur tikus” karena mengklaim melihat ada orang memancing di pantai. Kondisi ini membuat Pemkab Badung mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk membuka pantai secara selektif.

Menurut Danru Satpol PP BKU Kutsel, Wayan Suharyana, tiga wisatawan asing itu mengaku air pantai bagus, makanya mereka ingin mandi dan berenang di pantai. “Kami hanya berikan edukasi dan pemahaman, agar mereka tidak mengulangi perbuatannya,” kata Suharyana.

Dihubungi terpisah pada Senin (18/5) kemarin, Kasatpol PP Badung, IGAK Surya Negara, mengakui adanya wisatawan membandel acap dipergoki anggotanya saat patroli keliling wilayah. Selain wisatawan berenang, yang bermain selancar juga sering ditemukan di sejumlah pantai di wilayah Kutsel, terutama yang memiliki banyak akses jalur tikus. Bukan hanya di Kutsel, di beberapa pantai di Kuta Utara dan Kuta juga pernah ditemukan. “Mereka bahkan ada yang nekat melompat pagar, menyeberangi sungai dan semak belukar, sebab pintu utama sudah ditutup,” sesalnya.

Menurutnya, pelanggaran tersebut kebanyakan didominasi wisatawan. Namun, ada juga dilakukan masyarakat yang mengaku memiliki aktivitas di pantai seperti nelayan. Dia mengaku berulangkali melakukan atensi, tapi Satpol PP hanya sebatas bisa memberi imbauan, karena sanksi hukumnya tidak ada. Petugasnya juga tidak bisa siaga 24 mengawasi hal itu, karena kondisi dan situasi saat ini juga membuat beban petugas tambah berat.

“Kami hanya bisa melakukan patroli sewaktu-waktu, kalau dibebankan kepada petugas desa adat, mereka juga memiliki kebutuhan hidup yang tidak bisa diabaikan. Tapi sebisa mungkin kami tetap atensi hal ini, walaupun hanya sebatas imbauan,” ungkapnya.

Dia menilai masih adanya wisatawan tinggal di Bali menjadi salah satu faktor kejadian semacam itu. Sebab, mereka cukup lama di Bali dan tentu jenuh jika hanya tinggal di hotel. Namun, jika mereka diperbolehkan ke pantai, hal itu akan menimbulkan kecemburuan di masyarakat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkab Badung dibilang masih sedang mengkaji masa penutupan operasional pantai yang akan berakhir pada 29 Mei ini.

Salah satu dasar pertimbangan, terangnya, adalah melihat situasi paparan Covid-19 di Bali yang minim penambahan dan cenderung melandai. Apalagi penerbangan reguler di Bandara I Gusti Ngurah Rai sudah kembali dibuka secara selektif. Melihat situasi saat ini, mungkin awal Juni nanti beberapa tempat objek wisata bisa dibuka secara selektif dengan wajib menerapkan protokol kesehatan. “Kapan mulai dibuka, ini yang belum pasti,” lugasnya.

Rencana tersebut, sambungnya, sudah dibahas Sekda Badung terkait mekanisme dan lain-lain, termasuk protokol wisatawan melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai. Adapun yang dirancang itu adalah berupa pola kehidupan standar normal baru, dengan mengacu protap pencegahan Covid-19. Jika objek wisata tersebut dibuka secara selektif, akan ada petugas yang siaga untuk mengawasi protap yang diberlakukan. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.