Pemilihan Bendesa Adat Keramas Kisruh, Dua Calon “Walk Out”

Paruman pemilihan Bendesa Adat Keramas di wantilan Pura Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Sabtu (19/12/2020).
177 Melihat

GIANYAR, posbali.co.id – Pemilihan Bendesa Desa Adat Keramas, Blahbatuh, Gianyar pada Sabtu (19/12/2020) pagi berlangsung kisruh. Dua calon bendesa walk out (WO) dari pemilihan tersebut, karena panitia dinilai menggiring keputusan agar pemilihan dilakukan prajuru desa adat setempat.

Dalam pemilihan tersebut, ada tiga calon bendesa yakni I Nyoman Kantor Wirawan, I Gusti Agung Suadnyana, dan petahana I Nyoman Puja Waisnawa. Sesuai petunjuk perda, panitia memberi kesempatan ketiga calon untuk musyawarah mufakat. Hasilnya, Kantor Wirawan sepakat memilih Suadnyana sebagai bendesa, sedangkan Waisnawa tidak sepakat tentang hal itu.

Suadnyana selaku calon bendesa, Minggu (20/12/2020) mengatakan, dia sudah musyawarah mufakat dengan salah satu calon. Namun, panitia tidak menerima keputusan tersebut, dengan alasan jika salah satu calon tidak setuju maka itu bukan mufakat. “Lalu apa bedanya saya tidak sepakat atau setuju jika pemilihan dilakukan oleh prajuru adat? Apa hal tersebut memungkinkan untuk dilangsungkan?” sergahnya.

Menurut Suadnyana dan Wirawan, yang dimaksud tidak mufakat adalah jika ketiga calon sama-sama ngotot ingin menjadi bendesa. Sementara hasil pemilihan adalah dari ketiga calon, salah satunya sepakat memilih dia. Dia memaknai itu mufakat dengan asas 50 persen plus 1 tetap berjalan.

Dia pun menuding panitia menggiring pemilihan bendesa dilakukan prajuru desa adat setempat. Untuk itu dia akan mengirim surat protes ke Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali. Sebab, Majelis Desa Adat Kecamatan yang hadir dalam pemilihan tersebut tidak bisa memberi solusi atau keputusan apa pun. “Akhirnya setelah buntu, kami memutuskan keluar dari paruman, dan tidak menyetujui apapun keputusan yang dihasilkan,” tegasnya.

Ketua Panitia, Gusti Made Toya, yang dimintai tanggapan, menyebut dalam adat Desa Adat Keramas tidak ada istilah walk out. Kejadian dalam paruman terjadi saat perwakilan krama dari banjar akan melakukan musyawarah mufakat dengan pindah tempat duduk. “Saat dilakukan inilah, kedua calon I Gusti Agung Suadnyana dengan I Nyoman Kantor Wirawan berjalan keluar dari area paruman, dijemput pendukungnya yang tidak sebagai peserta rapat. Saya sudah sampaikan bahwa paruman ini belum selesai,” ujarnya.

Terkait tudingan yang memilih hanyalah prajuru, Toya mendaku hal itu tidak benar, karena sesuai perda terlebih situasi pandemi Covid-19, di desa adat yang besar pemilihan bisa dilakukan dengan perwakilan. Setiap 50 warga diwakili 1 orang, setiap tempekan subak diwakili 1 orang.

Dalam pemilihan Bendesa tersebut, Puja Waisnawa disepakati 50 perwakilan krama, Suadnyana disepakati 14 perwakilan, dan I Nyoman Kantor Wirawan 4 perwakilan. “Kemarin langsung diputuskan dan ditetapkan I Nyoman Puja Waisnawa menjadi Bendesa Adat Keramas, dan dalam penetapan itu disaksikan MDA Kecamatan, Perbekel, Ketua BPD,” pungkasnya. 011

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.