Pementasan Oratorium “Bali Padma Bhuwana” Jin, Setan Gundul, dan Genderuwo dalam Oratorium “Bali Padma Bhuwana”

1,116 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Pembukaan Pesta Kesenian Bali XLI-2019 di Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Sabtu (15/6) dimeriahkan dengan pagelaran Oratorium “Bali Padma Bhuwana”. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, garapan persembahan Instutut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu mengambil latar Bali era pertengahan, tepatnya pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong.

Secara umum kisah yang dibawakan menyajikan narasi besar upaya pemajuan Bali berbasis sinergitas raja (penguasa) dan wiku (pendeta). Dua aspek ini dianggap mewakili dua hal penting dalam pembangunan suatu bangsa, yakni kebijakan yang diambil penguasa, dan ranah pengetahuan yang menjadi basis ruang intelektual.

Melalui konsep inilah konon Raja Dalem Waturenggong didampingi wiku Dang Hyang Waturenggong berhasil mengelola Bali hingga mencapai puncak keemasan, ditandai dengan berkembangnya kesenian, sastra, dan ilmu pengetahuan. Perkembangan aspek-aspek ini tentu didukung kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.

Di tengah eloknya sajian tersebut, narasi yang cukup menggelitik suasana perpolitikan saat ini dimunculkan penggarap. Pada bagian akhir pagelaran, orator (dalang) mengungkap sejumlah nama setan yang sempat naik daun di kancah perpolitikan nasional. Uraian orator itu pun seakan menyiratkan refleksi mendalam bagi setiap insan bangsa, utamanya dalam upaya meradam ketegangan suhu politik pasca pesta demokrasi berakhir.

“Jin, setan, genderuwo, menyeringai haus darah bergentayangan. Kaum jin berjingkrak menyebar fitnah dan mengumbar ujaran kebencian. Setan gundul menyelinap, membisikkan kabar bohong, dan para genderuwo menggalang massa bayaran mengobarkan kerusuhan. Weleh, weleh, weleh, jalan-jalan di Pantai Sanur, berpacaran romantis sungguh asyik dan sip. Sebuah kejahatan yang terstruktur, dirancang sistematis, dan dilakoni secara masif,” kata orator disambut gemuruh penonton yang memenuhi Panggung Terbuka Ardha Candra Tamab Budaya Bali, Denpasar.

Sehari sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, mengemukakan oratorium pembuka PKB XLI-2019 memang tak hanya berupaya memunculkan nuansa estetis yang akan menyulap perhatian penonton. Jauh daripada itu, nilai-nilai historis dan filosofis yang bisa dimaknai lintas zaman akan ditampilkan.

“Nanti, ada narasi yang diharapkan bisa dibaca oleh masyarakat, bagaimana kejayaan Waturenggong dalam membangun Bali, bagaimana tatanannya, sebab Bali banyak dikembangman dari peradaban di masa itu,” katanya saat Gladi Bersih Pembukaan PKB XLI, Jumat (14/6).

Oratorium yang didukung ratusan seniman tersebut mengisahkan pemerintahan Dalem Waturenggong, dimana suatu ketika ia kedatangan seorang brahmana dari daerah Keling. Lantaran kondisi fisiknya yang kucal, Dalem Waturenggong tak mengakuinya sebagai seorang saudara (saudara jauh garis darah leluhurnya Kresna Kepakisan).

Tidak terima atas tindakan raja, Brahmana Keling akhirnya mengeluatkan kutukan yang membuat wabah besar-besaran di Bali dan mengganggalkan persiapan upacara Eka Dasa Rudra. Dalam kondisi penuh wabah itu, Dalem Waturenggong memohon nasehat purohitonya, Dang Hyang Nirartha, hingga akhirnya diketahui bahwa masalah itu berakar dari sikap tak sopan Dalem Waturenggkng terhadap Brahmana Keling.

Mengetahui kesalahannya, Dalem Waturenggong memanggil kembali Brahmana Keling ke Keraton Gelgel. Di sana ia meminta maaf dan memohon mencabut segala kutukan. Setelah semuanya kembali normal, Dalem Waturenggong menganugerahkan gelar “dalem” kepada Brahmana Keling serta memberi kewenanganan menyelesaikan upacara tertentu.

Kejadian itulah yang saat ini melahirkan tarian Topeng Sidakarya yang dipentaskan di akhir upacara di Bali. Sosok topeng inilah sebagai perwujudan Brahman Keling yang setelahnya bergelar “Dalem Sidakarya”. eri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.