Pemanfaatan Buah Lokal untuk Hotel Perlu Terus Digenjot

I Komang Gde Subudi
I Komang Gde Subudi
340 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Selain penguatan di bidang adat dan budaya, Gubernur Bali Wayan Koster juga memprioritaskan sektor pangan dari hulu ke hilir. Seperti kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali yang mewajibkan toko swalayan, hotel restoran, dan katering untuk menyerap produk lokal.

Gubernur Koster menilai selama ini kebijakan pemerintah banyak bertumpu di hulu. Namun, setelah ada hasil, malah tidak diurus dengan baik. “Ketika musim jeruk, manggis, anggur, harganya jatuh. Petani kurang sejahtera. Ini harus diurus lengkap secara menyeluruh,” ucap Koster saat “gala dinner” dan malam kesenian 16th Asian Food Conference 2019, di Jayasabha, Denpasar, Bali, Kamis (17/10).

Ketua Dewan Penasehat HKTI Bali, I Komang Gde Subudi SH menilai, kebijakan yang dikeluarkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster soal pemasaran dan pemanfaatan hasil pertanian khususnya buah lokal, sangat bagus. Kebijakan yg sudah di tunggu-tunggu petani.Untuk itu, kebijakan ini harus terus dikawal oleh segenap stakeholders terkait sehingga kebijakan yang sudah bagus ini benar-benar dapat menyejahterakan petani Bali.

“Pak Gubernur mengajak masyarakat Bali makan buah. Pergub sudah dikeluarkan supaya buah lokal bisa masuk ke swalayan dan hotel. Saya yang kebetulan Ketua Dewan Penasehat HKTI Bali yang bersentuhan hampir setiap hari dengan petani, pedagang buah, sangat tahu persis apa harapan dari para petani. Kebijakan ini harus terus dikawal bersama,” kata Subudi di Denpasar, Kamis (24/10).

Ia mengatakan, Bali punya komoditas yang bagus seperti jeruk, manggis, salak, pepaya, durian, dan lainnya. Dengan kebijakan Gubernur Koster yang sudah berjalan, maka semestinya petani Bali lebih bergairah menanam buah-buah unggulan tersebut. Guna mempercepat terwujudkan kebijakan tersebut, maka diharapkan insan pertanian dan insan pariwisata bergandengan tangan. Dengan demikian kedepan  diharapkan petani lebih bersemangat lagi untuk bertanam atau berkebun untuk menghasilkan produk pertanian yang semakin berkualitas.

“Kami di HKTI bersama kawan-kawan sangat bersemangat merespons ajakan Gubernur ayo makan buah ini. Dan ini sudah kami edukasi ke masyarakat khususnya masyarakat binaan HKTI melalui warung-warung HKTI. Kami setiap kesempatan ada pameran, membuka stand untuk menampilkan buah unggulan sambil mengkampanyekan kebijakan Bapak Gubernur,” kata Subudi.

Lebih jauh ia menjelaskan, setiap kamar hotel itu biasanya ada 2-3 buah. Sementara jumlah kamar hotel di Bali mencapai 140 ribu, dimana tingkat hunian rata-rata 60 persen. Maka, dihitung dari hal ini saja menurut Subudi, kebutuhan buah sebenarnya sangat tinggi. Belum lagi kebutuhan buah untuk restoran dan berbagai event nasional maupun internasional lainnya.

“Untuk itu kata Subudi yg jg Penasehat Dewan Pimpinan Pusat Nawa Cita Pariwisata Indonesia (DPP NCPI)hal ini perlu regulasi yang diurai secara  jelas supaya produk hasil petani Bali itu benar-benar masuk ke hotel. Kami NCPI dan stakeholder pariwisata lainnya siap berkontribusi memberikan pendampingan agar kebijakan Gubernur berjalan semakin efektif dilapangan. Jangan sampai harga buah itu dipermainkan tengkulak sehingga petani kita tidak mendapat apa-apa. Jadi, ini harus terus digenjot dan dikawal bersama” kata Subudi.

Selain memastikan buah lokal masuk kamar hotel, Subudi yang juga Pembina Yayasan Bakti Petiwi Jati yang memberikan prioritas dibidang pelestarian dan penyelamatan Situs Ritus  mengusulkan agar setiap hotel juga bisa menyajikan Bhagawadgita di setiap kamarnya. Hal ini guna memberikan ciri khas bahwa Bali bagian dari peradaban Hindu. Bagaimana di setiap kamar hotel itu tidak hanya ada Alquran dan Bibel, tapi juga ada Bhagawadgita supaya lebih membumi bahwa Bali ini ada Hindu dengan salah satu kitab sucinya Bhagawadgita,” tutupnya serius. 026

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.