Pelaku Pariwisata Sebut Pengangguran di Bali 1,2 Juta Orang

Made Ramia Adnyana
1,794 Melihat

DENPASAR, posbali.co.id – Tahun 2020 berlalu, namun pandemic Covid-19 memberikan pukulan telak bagi perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi yang tergerus hingga minus 12,28 persen ditambah kenaikan jumlah pengangguran 267,8% menjadi 144,5 ribu kian membuat Bali kian merana.

Pelaku pariwisata Bali, Dr. (C) I Made Ramia Adnyana, SE., MM., CHA., bahkan menyebut jumlah pengangguran di Pulau Dewata jauh di atas ‘angka resmi’. Tanpa merinci lebih jelas, Ramia mengklaim angka pengangguran di Bali tembus 1,2 juta orang. Dia berseloroh, Bali kini banyak dihuni OTG alias ‘orang tanpa gaji’. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak di tahun 2021, khususnya stakeholder pariwisata Bali.

“Tahun 2020 telah kita lalui bersama. Bali sangat terpuruk sebagai dampak pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan sektor pariwisata. Ribuan hotel dan restoran tutup. Usaha subsektor pariwisata mandeg, ratusan artshop tutup, ribuan guide dan sopir menganggur, transportasi wisata mangkrak di pool karena tidak bergerak hampir setahun,” jelas Ramia saat dihubungi awak media di Denpasar, Minggu (3/1/2021).

Wakil Ketua IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association) ini mengaku, dia mendapat banyak keluhan dari para pekerja pariwisata tabungan hampir amblas. Sebagian sudah menjual aset untuk bisa bertahan. “Kami telah berusaha maksimal untuk bertahan selama setahun dan selanjutnya hanya bisa menunggu kebijakan pemerintah melalui bansos dan hibah untuk memperpanjang nafas kami,” ungkap Ramia.

Sebagai pekerja di sektor pariwisata, tepatnya General Manager Hotel Sovereign Bali, Ramia mengaku tetap memiliki harapan agar hari esok lebih cerah. Namun, fakta bahwa tidak ada yang bisa memastikan kapan pandemi Covid-19 berakhir membuahkan pertanyaan besar. Walaupun vaksin sudah diprogramkan oleh pemerintah, namun Ramia menyebut belum melihat kapan realisasi ini akan menjadi kenyataan. ‘Semua masih gelap,” ketusnya.

Ia juga meragukan, apakah vaksin tersebut benar-benar efektif menghentikan laju Covid-19. Lebih-lebih diketahui bersama bahwa varian baru SARS-CoV-2 yang lebih dahsyat menyebar dari Eropa hingga ke Singapura dan siap menghandang di depan. “Akankah ini menjadi gelombang kedua? Good Bye 2020 dengan selaksa cerita pandemi Covid-19,” urainya.

Di tengah “badai” Covid-19, Ramia menekankan praktisi pariwisata tetap optimis dan semangat sekaligus yakin masih ada secercah harapan di 2021. Insan pariwisata berharap sektor pariwisata mulai sedikit menggeliat sejak dibukanya kran domestik market pada 30 Juli 2020.

Di sisi lain, dengan dilantiknya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Solahuddin Uno, pihaknya memiliki harapan besar pariwisata akan segera bangkit dan dimulai dari pasar domestik. Kementrian Pariwisata RI harus menggerakan pasar domestik secara masif dan didukung oleh sektor airlines serta hotel.

“Dengan demikian bisa dijual paket hemat dan affordable selama pandemi Covid-19 belum berakhir walau vaksin sudah dijalankan. Dengan bergeraknya pasar domestik secara maksimal, maka ekonomi pariwisata secara perlahan bisa kembali bergairah,” tandas Ramia. 016

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.