Pasar Majelangu Desa Adat Kuta dan Arak-Arakan Ogoh-Ogoh Ditiadakan Tahun ini

Wayan Wasista
700 Melihat
Final JBD dan Lomba Ogoh-Ogoh Dilaksanakan Dengan Pengaturan Pola

MANGUPURA, POSBALI.co.id – Setelah melaksanakan rapat Pat Gata Kala pada Rabu (18/3) malam, Desa Adat Kuta menyepakati bahwa tahun ini pelaksanaan pasar Majelangu Desa Adat Kuta ditiadakan, termasuk untuk prosesi atraksi (pengarakan) Ogoh-ogoh dan Gong Kebyar Anak-anak. Keputusan itu diambil mengacu pada Surat Edaran Gubenur Bali No 7194 dan Surat Edaran Bupati Badung No 183, yang salah satu point diantaranya mengimbau peniadaan atau pembatasan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan keramaian atau kerumunan masa, dalam upaya mencegah penyebaran virus Corona. Hal tersebut diungkapkan oleh Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista ditemui, Kamis (19/3).

Kendati pengarakan ogoh-ogoh ditiadakan, namun untuk lomba ogoh-ogoh tetap akan dilaksanakan. Dimana penilaian hanya dilakukan oleh dewan juri, dengan berkeliling ke masing-masing banjar. Penilaian tersebut akan dilakukan pada tanggal 23 Maret 2020, dengan menilai ogoh-ogoh dalam posisi duduk (tanpa diarak). Pada Sore harinya tim juri akan langsung melakukan Rekapitulasi Nilai serta pengundian hadiah. Sementara untuk penentuan juara favorit yang biasanya dilakukan voting oleh wisatawan, kali ini juga terpaksa dibatalkan. “Bagi Sekaa Teruna yang tetap ingin menampilkan hasil kreativitas masing-masing, kami membatasi ruang geraknya dengan tampil hanya pada lingkungan banjar masing-masing. Yaitu mulai pukul 17.00 Wita hingga 19.00 Wita,”ujarnya.

Sementara untuk pelaksanaan Upacara Melasti, kali ini penyelenggaraannya juga mengalami penyesuaian. Dimana jumlah peserta dibatasi hanya kelian, kaling, dan kertha desa. Bahkan 15 Prasanak yang ikut dalam prosesi itu juga diimbau untuk tidak menyertakan banyak orang, selain yang ditugaskan untuk membawa Arca, Pecanangan, dan Tombak. Selain itu, tarian Rejang Dewa juga ditiadakan dan tidak memakai Lelancingan. “Kami imbau kepada krama lainnya agar tidak ikut serta. Kami berharap agar mereka tetap tinggal di rumah, sembari mendoakan agar semuanya rahayu,” imbaunya seraya mengabarkan bahwa prosesi Ngaturang Rayunan Agung pada saat Panyejeran Ida Betara di Bale Agung, juga tidak dilakukan dengan Mapeed (Macelos).

Ditambahkannya, saat pemelastian nanti, pihaknnya juga menyiapkan hand sanitizer. Cairan itu akan disemprotkan oleh Pecalang ke tangan setiap krama di Pura Desa, baik sebelum ataupun sesudah prosesi melasti. Pihaknya juga sudah mengimbau satgas pantai yang mengamankan pemelastian, agarensterilkan tempat melasti dan disemprotkan disinfektan. “Untuk pecaruan di Catus Pata, itu tetaplah dilaksanakan seusai Ngaturang Rayunan Agung di Bale Agung. Ketika itu, krama Banjar akan diberi 3 tirta yang bisa diperoleh pada banjar masing-masing ketika Pangerupukan,”terangnya.

Sementara untuk grand final Jegeg Bungan Desa (JBD) Desa Adat Kuta,  hal itu tetap dilaksanakan. Namun pelaksanaanya itu akan dilakukan dalam gedung, dengan tanpa dihadiri penoton. Dimana hanya juri dengan peserta yang akan ada dalam ruangan. Kemungkinan final JBD akan dilaksanakan di aula LPD Kuta. 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.