Pariwisata Budaya Jangan Diganggu Gugat

Gusde dan Cok Ace
Gusde dan Cok Ace
1,349 Melihat

DENPASAR, POS BALI – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati juga menanggapi pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio yang akan menjadikan Bali sebagai  pariwisata ramah muslim. Cok Ace mengatakan, pemerintah dan masyarakat Bali telah sepakat menetapkan bahwa pariwisata yang dikembangkan di Bali adalah pariwisata budaya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali nomor 2 tahun 2012 tentang Kepariwistaan Budaya Bali.

Kepariwisataan Budaya Bali, kata dia, adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan kepada kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran Agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya, sehingga terwujud hubungan timbal-balik yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat keduanya berkembang secara sinergis, harmonis dan berkelanjutan untuk dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kelestarian budaya dan lingkungan. 

“Bali tetap menerapkan pariwisata berbasiskan budaya dengan kearifan lokalnya yang bernafaskan Agama Hindu, pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal dengan mengedepankan filosofi “Tri Hita Karana” atau tiga hubungan keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan,” ujarnya, Senin (11/11).

Perkembangan Pariwisata Bali dari tahun ke tahun, jelas Cok Ace, sangat dipengaruhi oleh faktor keragaman budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bali. Oleh karena itu sangat tepat kiranya jika pariwisata Bali disebut sebagai pariwisata yang berbasis budaya atau sering di sebut Pariwisata Budaya Bali. Adat, seni, dan budaya Bali sebagai potensi dasar yang dominan di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dan kebudayaan.

Pariwisata Bali yang demikian sudah berlangsung lama, lanjut Cok Ace, sudah diterima dan mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, juga dari berbagai negara di dunia, tanpa melihat agama dan latar belakangnya. Semua diterima sebagai wisatawan. Sudah sejak ratusan tahun silam krama Bali sangat ramah dan toleran terhadap pihak manapun yang datang ke Bali, tanpa memandang mereka pemeluk Budha, Muslim atau Kristen. “Jangankan wisatawan, semeton muslim yang sudah ratusan tahun berinteraksi di Bali pun tidak ada diskriminasi, toleransi yang sangat indah,” kata Cok Ace yang juga Ketua PHRI Bali ini.

Kondisi pariwisata Bali selama ini sudah berjalan dengan baik dan semua wisatawan yang datang bisa terlayani dengan baik. Bahkan reputasi wisata Indonesia mulai meroket saat Conde Nast Traveller 2019 Timur Tengah memberikan award untuk Bali sebagai Favorite Adventure Destination buat wisatawan asal Timur Tengah periode 2018/2019.  

“Pariwisata Bali tidak perlu diganggu gugat lagi, karena sudah berjalan dan dikelola dengan baik oleh masyarakat Bali. Raja Salman (Raja Arab Saudi, red) berlibur dan bahkan memperpanjang masa liburannya di Bali, dan tidak ada keluhan sama sekali. Jadi tidak elok jika ada pernyataan yang menunjukkan seakan-akan Bali ini tidak ramah terhadap wisatawan muslim,” tandasnya.

KURANG SIMPATIK

Secara terpisah, praktisi pariwisata yang juga Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, IB Sidharta Putra menilai langkah awal Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wisnuthama kurang simpatik dan mengagetkan masyarakat Indonesia khususnya Bali dan Sumatra Utara.

“Pak menteri sendiri sejak dilantik sampai saat ini belum kunjungan kerja ke Bali. Belum mengetahui dan melihat karakter alam Bali dan masyarakatnya. Terus bikin pernyataan seperti ini. Tentu hal ini kurang simpatik dan bisa menimbulkan persepsi yang macam-macam terhadap pak menteri sendiri,” kata Gusde sapaannya saat dihubungi POS BALI, Senin (11/11).

Menurut Gusde, mestinya diawal masa jabatan ini, Kementerian Pariiwisata dan Ekonomi Kreatif  perlu melakukan penguatan destinasi, kordinasi antar kementerian terkait, dan menjalin hubungan dengan pemerintah daerah khususnya di daerah-daerah yang menjadi basis pariwisata.

“Mestinya ketemu dulu dengan praktisi dan pelaku pariwisata di Bali menjelaskan program apa yang dilakukan,  jangka pendek, menengah dan panjang. Dengan demikian Pak Menteri akan tahu apa yang mesti dikerjakan. Kenapa? Suka tak suka Bali penyumbang 40 persen dari total pendapatan pariwisata untuk Indonesia. Dan kita di Bali selalu siap dan mensupport siapa pun menteri pariwisatanya,” kata Gusde.

Dengan pernyataan Menparekraf yang demikian, masyarakat Bali jadi bertanya; Bali diminati wisatawan karena apa?  “Karena frendly dan keramahtamahan. Dan semua ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Jangan sampai pernyataan ini membuat Bali kecewa berkepanjangan. Dan untuk menghidupi lima destinasi Bali baru atau 10 destinasi Bali baru, Bali punya peran karena sumber daya manusia yang berkaitan hospitality sudah terlatih dan terdidik. Dan siap mengedukasi destinasi-destinasi Bali baru,” ujar Gusde. 019/003

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.