Pandemi Corona, Gebug Ende untuk Tontonan Ditiadakan

Atraksi penampilan gebug ende Seraya di salah satu acara yang berlangsung beberapa waktu lalu di kawasan Taman Ujung, Karangasem.
287 Melihat

KARANGASEM, posbali.co.id – Salah satu tradisi unik dan terkenal di Karangasem yakni gebug ende asal Desa Seraya, Kecamatan Karangasem. Warga Seraya galib melaksanakan gebug ende sebagai ritual memanggil hujan setiap tahun. Pementasan ini acapkali menyedot wisatawan untuk menyaksikan.

Sayang, pandemi Covid-19 atau Corona “memaksa” tradisi gebug ende batal dilaksanakan. Padahal warga desa berencana menjalankan tradisi ini di Banjar Merajan. Hal ini disampaikan Bendesa Adat Seraya, I Made Salin, Kamis (22/10).

“Kami tidak mau menyalahi prokes (protokol kesehatan), masih belum berani melaksanakan kegiatan tersebut, karena kemungkinan sulit mengontrol penonton. Dengan demikian diputuskan untuk batal menggelar tradisi gebug ende,” kata Wayan Salin.

Dia memaparkan, keputusan ini murni dari kesepakatan dia dan panitia tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Rapat dengan krama pun dilakukan pada Rabu (21/10) malam lalu. Meski akhirnya sepakat tidak dilangsungkan, dia tidak memungkiri ada sedikit pro dan kontra.

Dia menekankan kepada warga untuk tidak membanding-bandingkan dengan yang lain, tetap menuruti prokes. “Toh jika ini tidak dilaksanakan, tidak akan berdampak apa-apa. Sebab, gebug ende yang bersifat tradisi ini tidak wajib dilaksanakan,” terangnya.

Gebug ende yang wajib dilaksanakan, jelasnya, yakni yang bersifat sakral, dan dijalankan warga Desa Seraya pada 8 s.d. 10 Oktober 2020 lalu di Pura Bale Agung. Saat pelaksanaan tersebut, memang ada penonton, tapi tempatnya yang cukup luas membuat kerumunan masih bisa dikontrol.

Salin mengaku tidak tahu sampai kapan menunda tradisi gebug ende ini. “Mungkin akan sampai tahun depan,” pungkasnya. nad

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.