Pandemi, 30 Ribu WNA Masih di Bali

Proses pendeportasian salah satu WNA yang sempat viral karena menawarkan jasa datang ke Bali di masa pandemi melalui jalur gelap.
514 Melihat

MANGUPURA, posbali.co.id – Sejak pandemi Covid-19 mulai merebak di Indonesia, sekitar 30 ribu wisatawan asing dari berbagai negara diketahui masih berada di Bali. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM propinsi Bali, Jamaruli Manihuruk saat merilis pendeportasian salah seorang wisatawan Rusia, Minggu (24/1/2021) di kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai.

Dari jumlah tersebut, ada beberapa WNA yang telah dideportasi karena melakukan pelanggaran Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Hal itu disinyalir tidak lepas dari imbas faktor pandemi Covid-19, sehingga WNA tersebut nekat mencari peruntungan di Bali.

Jamaruli Manihuruk menerangkan, di tahun 2020 pihaknya sudah mendeportasi 157 WNA ke negara asalnya disertai dengan penangkalan masuk ke wilayah Indonesia. Sepanjang Januari 2021, pihaknya juga telah mendeportasi 5 orang WNA. Dominan jenis pelanggaran yang dilakukan berupa penyalahgunaan izin tinggal.

“Pada umumnya mereka itu menggunakan izin kunjungan, tapi karena perpanjangan otomatis maka banyak menyalahgunakan izin tinggalnya. Seperti mencari pekerjaan, menawarkan jasa, menawarkan investasi dan sebagainya. Padahal kalau menjadi investor syaratnya harus punya Kitas, tapi mereka hanya mempunyai izin kunjungan,” ungkapnya.

Imigrasi tidak menampik bahwa pelanggaran yang dilakukan WNA bisa dilatarbelakangi banyak faktor. Sebab para WNA hingga kini belum bisa pulang ke negaranya. Mereka lantas melakukan pelanggaran berupa penyalahgunaan izin tinggal, antara lain berbisnis dan mencari pekerjaan.

Untuk memastikan apakah WNA tersebut benar-benar melakukan pelanggaran, tentu Imigrasi harus melakukan pendalaman atas informasi yang masuk. Terlebih jika informasi itu hanya menyampaikan aktivitas WNA yang diunggah melalui akun pribadinya. Di mana nama akun tersebut belum tentu sama dengan nama identitas resmi WNA dimaksud.

“Kadang dalam akun yang bersangkutan itu hanya nama panggung atau nama panggilannya. Jadi harus kita cek lagi kebenarannya. Ada pula WNA yang mencantumkan alamat tinggalnya di suatu lokasi, namun ketika diselidiki ternyata tidak ditemukan. Kalau yang berdangkutan terbukti menyalahi ketetapan hukum yang berlaku, tentu itu akan kita deportasi,” tandasnya.

Sebelumnya Ketua LPM Legian, Wayan Puspa Negara sempat menerangkan bahwa kondisi wisatawan yang masih berada di Legian memang tampak mulai kehabisan bekal. Hal itu disinyalir memicu adanya beberapa kejadian kriminal di wilayah kecamatan Kuta yang dilakukan oleh WNA. Selain itu beberapa WNA juga diketahuinya mulai hidup irit dengan berbelanja di pedagang kaki lima. Bahkan tidak sedikit WNA yang ikut mengantri mendapatkan makanan gratis yang diprakarsai LPM Legian melalui giat Rapela (Razia Perut Lapar). 023

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.