Panah Raksasa Berdiri Tegak di Pantai Legian, Simbol Doa Seniman agar Covid-19 Segera Musnah

Panah raksasa berdiri megah di Pantai Legian
Panah raksasa berdiri megah di Pantai Legian
423 Melihat

MANGUPURA, POS BALI – Panah berukuran raksasa berdiri tegak di depan area pemelastian Pantai Legian, Rabu (30/9). Karya instalasi yang diinisiasi seniman Desa Adat Legian memiliki tinggi busur sekitar 11 meter dan panjang anak panah 12 meter. Hal tersebut menjadi spot daya tarik baru di pantai Legian, terlebih bahan yang dipergunakan relatif ramah lingkungan.

Inisiator karya instalasi, AA Made Oka Fariana, karya tersebut gagasan spontan. Wujud representasi seni atas kondisi pandemi Covid-19, dengan maksud memohon secara niskala kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa agar Covid-19 lenyap dari muka bumi.  “Selaku seniman, kami terdorong melakukan sesuatu dalam menyikapi fenomena saat ini. Apa yang bisa kami perbuat, tentu memvisualisasikannya dalam bentuk instalasi ini.  Ini merupakan gambar visual,  doa permohonan kepada Tuhan yang kita ambil dari cerita Salya Parwa,” kata  mantan Ketua LPM Legian ini.

Karya instalasi mengambil ide Asta Dasa Parwa.  Khususnya parwa ke sembilan atau Salya Parwa menggambarkan senjata Cakra Baskara yang diarahkan ke tanah.  Dimana senjata yang dibentangkan Prabu Dharma Wanga (Yudistira) itu bertujuan memusnahkan raksasa kecil yang mampu membelah diri dan keluar dari senjata Candra Birawa Prabu Salya. Dimana saat itu,  Prabu Salya merupakan panglima perang dari Kurawa menggantikan pangeran Karna yang gugur dalam peperangan Bharatayuda.

Dalam kaitan Covid-19, kisah tersebut dinilai mampu merepresentasikan kondisi yang terjadi saat ini. Dimana panah bermata cakra Dharma Wangsa itu merupakan wujud dari vaksin tempur Covid-19.  Senjata Candra Birawa Prabu Salya menggambarkan realita dari senjata biologis saat ini dan mahluk kecil berupa raksasa itu adalah gambaran hasil rekayasa genetika sebagai senjata biologis yang sangat mematikan.  “Jadi kisah Prabu Salya itu kami nilai sangat cocok untuk menggambarkan situasi saat ini dan ada kemiripannya. Melalui visual ini kita memohon kepada tuhan dengan simbol Cakra Baskara, agar tuhan kembali memusnahkan virus Covid-19 sehingga umat manusia bisa terbebas dari virus tersebut,”paparnya didampingi Made Kona pembuat konstruksi instalas

Pemasangan instalasi memang memiliki tantangan dalam pengerjaan. Sebab lokasi di pantai yang memiliki tiupan angin kencang dan udara lembab karena memgandung air garam. Pihaknya berharap instalasi tersebut bisa bertahan cukup lama, minimal mampu bertahan selama dua hari kedepan. Biaya pembuatannya dari swadaya mencapai Rp 6 juta. Untuk mendirikannya, ia mengaku dibantu oleh sekitar 10 orang warga Legian. 023

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.