Operasi Prokes di Batu Bolong, Tim Yustisi Denda 10 Bule

Foto: Operasi yustisi di Batu Bolong, Canggu.
102 Melihat

MANGUPURA, posbali.co.id – Jelang pembukaan pariwisata internasional yang digadang-gadang pada bulan Juli 2021 di tiga zona hijau Ubud, Sanur, dan Nusa Dua, Pemerintah Provinsi Bali semakin gencar dan ketat mendisiplinkan masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan. Tak hanya WNI, wisatawan asing juga menjadi sasaran penegakan protokol kesehatan ini.

Seperti yang dilakukan Tim Yustisi. Tim terdiri dari unsur Satpol PP Provinsi Bali 22 personel, Satpol PP BADUNG 17 orang, Polda Bali 20 Personel, Polres Badung 12 personel, Polsek Kuta Utara 4 orang, dan Imigrasi Ngurah Rai 3 personel mengelar operasi penegakan protokol kesehatan (prokes) di Batu Bolong, Canggu Badung, Minggu (4/4).

Hasilnya, operasi yang dipimpin Kabid Trantib Satpol PP Provinsi Bali, Komang Kusuma Edy menjari puluhan pelanggar prokes. Tidak hanya WNI, operasi ini juga menjaring WNA alias bule yang kedapatan tak memakai masker.

Pelanggar untuk bule masing-masing dijerat denda administrasi Rp1 juta, sedangkan WNI didenda administrasi masing-masing Rp100 ribu. Denda administrasi itu sesuai dengan Pergub Bali No. 10 Tahun 2021 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru.

Dalam operasi yang berlangsung selama dua jam, dari pukul 20.00 WITA hingga pukul 22 WITA itu, denda administrasi untuk WNI sebanyak dua orang, denda WNA 10 orang, surat panggilan untuk tiga WNA, dan ditangani Imigrasi satu orang.

Kasatpol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Rai Dharmadi mengungkapkan selain denda untuk WNA yang melanggar prokes, mereka juga diminta menandatangani surat pernyataan tidak lagi mengulangi perbuatannya.

“Untuk yang ditangani Imigrasi, itu wisatawan asal Korea. Selain itu, kami juga melakukan teguran lisan kepada 41 pelanggar prokes lainnya, terdiri dari 10 WNI dan 31 WNA. Mereka kedapatan tidak memakai masker dengan baik dan benar. Maskernya dikenakan di dagu, dan tidak menutup hidung,” ungkapnya.

Dijelaskan, operasi ini sebagai upaya untuk memberikan kepastian dan keyakinan kepada wisatawan yang akan berwisata ke Bali bahwa Bali konsisten melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum terhadap yang masih coba-coba dengan sengaja abai protokol kesehatan. “Siapapun dia bagi yang melanggar kita beri sanksi,” tegasnya saat memantau langsung pelaksanaan operasi ini.

Dijelaskannya, banyaknya jumlah WNA yang terjaring dalam operasi ini, masih dengan alasan klasik, lupa, tidak tahu ada peraturannya dan lain sebagainya. “Kami tidak memberikan toleransi lagi bagi WNA, karena di negara asalnya, justru mereka sangat ketat pengaturan dan sanksinya. Jangan lalu di Bali justru mereka boleh seenaknya, dan abai dengan protokol kesehatan,” jelasnya.

Dewa Dharmadi menambahkan bahwa dengan operasi ini pihaknya tidak ingin terjadi kecolongan, dan bahkan dikatakan tidak tegas dalam menindak setiap pelanggaran protokol kesehatan.

“Kami bersama tim satgas penegakan hukum dan pendisiplinan masyarakat tentu tetap konsisten dan berharap masyarakat kita patuh ketentuan protokol kesehatan di setiap kegiatan yang dilaksanakan di luar rumah,” lugasnya.

“Masyarakat Bali harus berani menjamin dan meyakinkan kepada dunia internasional siap patuh dan tertib protokol kesehatan. Bukan saja karena ada petugas yang mengenakan denda. Karena sejatinya denda bukanlah target dan tujuan kita, tetapi lebih kepada pemberian efek jera bagi yang masih saja coba-coba baik disengaja maupun tidak disengaja masih abai protokol kesehatan. Karena sejatinya inilah kehidupan dengan adaptasi kebiasaan baru harus disadari oleh semua orang,” tandasnya. alt

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.