Nusa Penida Jadi Pilot Projek Coremap-CTI

Foto: Kick off Coremap-CTI, di Nusa Dua, Bali.
423 Melihat

MANGUPURA, posbali.co.id – Nusa Penida bakal dijadikan pilot projek rehabilitasi dan konservasi Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (Coremap-CTI) oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Tak hanya di Nusa Penida, pelaksanaan Coremap-CTI dengan dana hibah Asian Development Bank ini, pilot projek pelestarian terumbu karang ini juga menyasar Gili Matra dan Gili Balu, Nusa Tenggara Barat. Di mana program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang – Prakarsa Segitiga Karang, merupakan program untuk menjaga kelestarian terumbu karang Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang mengandalkan laut dalam kehidupan mereka.

“Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Barat memiliki terumbu karang dengan keanekaragaman tinggi, sehingga kita perlu berkomitmen untuk menjaganya. Kegiatan Coremap-CTI ini merupakan triger atau stimulus pasca pandemi Covid-19 untuk menggerakan kegiatan lain di bidang ekonomi,” ujar Sekretaris Bappenas Himawan Hariyoga dalam kegiatan Kick off Coremap-CTI, di Nusa Dua, Bali, Selasa (30/3).

Lanjut dia, Kick off Coremap-CTI di Bali ini merupakan kolaborasi multi pihak untuk pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan terutama dengan dukungan pendanaan dari Asian Development Bank yang akan dilakukan oleh Indonesia Climate Change Trust Fund serta para mitra pelaksana.

“Dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, Bappenas terus menekankan bahwa tidak ada trade off antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pelestarian sumber daya pesisir dalam hal ini terumbu karang dapat menjadi salah satu contoh nyata bagaimana upaya menjaga lingkungan dapat sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat dan nasional,” tandasnya.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto menuturkan, Coremap- CTI juga mendukung Sustainable Development Goals 14 (Life Below Water) yaitu konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya laut, samudera dan maritim untuk mencapai 3 target utama SDG’s.

Antara lain, sebut dia, perlindungan ekosistem laut dan pesisir secara berkelanjutan, mengkonservasi setidaknya 10% area pesisir laut dan meningkatkan keuntungan ekonomi yang berkelanjutan.

“Tujuan program pelestarian terumbu karang ini adalah untuk mencapai efektifitas pengelolaan 80% level biru. Bentuk intervensi Coremap – CTI dengan pendanaan Asian Development Bank di Nusa Penida, Gili Matra, dan Gili Balu tersebut dilakukan dalam bentuk penguatan kelembagan dan pengelolaan terumbu karang, pengembangan rencana pengelolaan sumber daya berbasis ekosistem dan peningkatan mata pencaharian berkelanjutan,” jelasnya.

Executive Director ICCTF, Tonny Wagey menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan di Nusa Penida, Gili Matra dan Gili Balu, Nusa Tenggara Barat diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang ada di Indonesia dalam pemanfaatan, pengelolaan terumbu karang yang baik. Karena di daerah lain, banyak karang yang bagus namun pengelolaannya kurang baik, dan juga sebaliknya.

“Nah Bali kan mempunyai keungulan. Jadi orang datang ke Bali dan diajak ke Nusa Penida itu pikirannya coral. Tapi, sekarang kita akan kelola betul agar tidak over exploitation, kita harus tahu daya dukung, dan daya tampung. Karena di sana ada ikon ikan mola, tapi kalau habitatnya digangggu oleh diver yang banyak, maka akan kabur ikannya. Nah itu yang harus kita jaga,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten I Setda Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra menyampaikan dukungan dan apresiasi dengan program pelestarian terumbu karang yang ada di Bali. Karena selain bermanfaat bagi eksosistem laut, juga berdampak pada kesejahteraan ekonomi khususnya pariwisata untuk ke depannya.

“Tentu pelaksanaan ini tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi juga semua pihak dan termasuk kelompok nelayan. Ke depan, kami harap generasi muda memperhatikan pelestarian terumbu karang ini,” singkatnya.

Untuk diketahui, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sumber daya pesisir dan laut yang sangat kaya dan dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Indonesia memiliki 596 jenis terumbu karang, kita memiliki 14 persen dari luas terumbu karang dunia dengan 39 persen jenis ikan karang dunia. 019

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.