Musprovlub Tanpa Rekomendasi PBTI, KONI Bali juga Tak Hadir

667 Melihat


DENPASAR, posbali.co id – Berbagai cara dilakukan untuk menjegal Plh Ketua Umum (Ketum) Pengprov TI Bali, Ketut Sugiartha, termasuk menggelar Musprovlub oleh segelintir Pengkab yang membentuk Presidium Pengprov TI Bali. Musprovlub digelar Minggu (5/1) di Hotel Grand Bali Park, Denpasar walau tanpa dihadiri perwakilan Penggurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) maupun KONI Bali.

Lantas kenapa PBTI tak hadir pada Musprovlub tersebut? Sesuai surat keputusan PBTI tanggal 3 Januari 2020 yang ditandatangani Ketua Hariannya. Anthony Siregar menyatakan, pertama; PBTI tidak merekomendasikan dan tidak akan menghadiri pelaksanaan Musprovlub TI Bali tanggal 5 Januari 2020 yang digagas beberapa Pengkab/Kota TI Bali karena  tidak sesuai dengan AD/ART Taekwondo Indonesia.

Kedua; PBTI akan menyampaikan rencana Musprovlub kemudian, dimana pelaksanaannya sesuai AD/ART adalah PLH Ketum TI Bali saat ini. Ketiga; Hal-hal dan permasalahan di Pengprov TI Bali yang perlu penjelasan agar dikomunikasikan secara internal di antara Pengprov TI Bali dan Pengkab/Kota TI Bali. Keempat; Pengkab/Kota TI Bali agar mengikuti arahan dan petunjuk dari PBTI.

Selain ditembuskan ke Pengkab/Pengkot TI se-Bali, surat PBTI ini juga ditembuskan ke KONI Bali. Jadi kemungkinan besar, KONI Bali yang sebelumnya disebut-sebut berada ‘dibelakang’ dari segelintir Pengkab yang membentuk presidium ini berpikir dua kali untuk menghadadiri Musprovlub tersebut. Sebab, jika sampai KONI Bali menghadiri Musprovlub, tentu akan menjadi masalah besar bagi induk organisasi olahraga di Bali tersebut.

Saat dikonfirmasi, Plh Ketum Pengprov TI Bali Ketut Sugiartha menanggapi dingin pelaksanaan Musprovlub TI Bali tersebut. ”Sudah jelas, artinya apa kalau Musprovlub tidak dihadiri PBTI dan KONI Bali. Jadi, intinya Musprovlub itu tidak sah karena melanggar AD/ART. Kembali saya tegaskan, AD/ART Taekwondo Indonesia juga tidak mengenal istilah presidium,” tegas pensiunan TNI berpangkat kolonel ini.

Terkait tudingan dirinya tidak bisa diajak berkomunikasi, Sugiartha menilai hal yang mengada-ngada. Sesuai tugas yang diamanatkan dalam SK PBTI, pihaknya sudah melakukan roadshow ke sejumlah Pengkab/Pengkot se-Bali, tetapi hanya Bangli dan Negara belum karena ketidaksiapan mereka menerima TI Bali. ”Mungkin pengurus sebelumnya justru belum pernah melakukan seperti yang kami lakukan,” imbuh mantan Dandim Banyuwangi dan Surabaya Timur ini.

Yang paling geli, tambah Sugiartha, saat dirinya diundang KONI Bali tanpa melalui surat resmi. ”Kami hanya diundang lewat WA, bahkan terkesan mendadak. Undangan lewat WA malam, sehari sebelum jawal pertemuan. Karena mendadak, saya minta izin tidak bisa karena kebetulan saat itu saya masih di luar Bali,” lanjut mantan kepala staf Korem Mojokerto ini. ”Saya juga tak habis pikir, kenapa lembaga sekelas KONI kok mendadak-mendadak gitu kasi undangan,” pungkas pria yang terakhir bertugas sebagai wakil komandan pusat kesenjataan alteleri  pertahahan udara ini. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.